
Oleh: Ach Basori (Ikatan Mahasiswa Gedangan)
Abstrak
Pemahaman terhadap perkembangan murid merupakan salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki oleh seorang guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan bermakna. Guru perlu memahami perkembangan peserta didik baik dari aspek kognitif, afektif, sosial, maupun psikomotorik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan teknik-teknik dalam memahami perkembangan murid melalui pendekatan teknik tes dan teknik non tes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis berbagai literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik tes digunakan untuk mengukur kemampuan akademik siswa secara objektif, sedangkan teknik non tes digunakan untuk memahami aspek kepribadian, sikap, dan sosial-emosional siswa. Pemahaman yang komprehensif terhadap perkembangan murid dapat dicapai dengan mengintegrasikan kedua teknik tersebut secara seimbang.
Kata Kunci: Perkembangan Murid, Teknik Tes, Teknik Non Tes, Pendidikan
Pendahuluan
Perkembangan murid merupakan fondasi utama dalam sistem pendidikan modern, yang tidak hanya mencakup aspek akademik tetapi juga dimensi holistik manusia. Dalam konteks psikologi perkembangan, seperti yang digambarkan oleh teori Jean Piaget tentang stadia kognitif (sensorik, pra-operasional, operasional konkret, dan formal) atau Erik Erikson tentang tahapan psikososial, setiap siswa mengalami perubahan yang unik dan bertahap. Karakteristik ini meliputi kemampuan berpikir (kognitif), seperti logika dan kreativitas; sikap (afektif), seperti motivasi dan nilai moral; emosi, seperti pengelolaan stres dan empati; serta keterampilan (psikomotorik), seperti koordinasi fisik dan kemampuan teknis. Variasi ini dipengaruhi oleh faktor internal seperti genetik dan usia, serta eksternal seperti lingkungan keluarga, sosial, dan budaya. Jika tidak dipahami dengan baik, perbedaan ini dapat menyebabkan kesenjangan pembelajaran, seperti siswa yang frustrasi karena kurikulum terlalu maju atau yang bosan karena terlalu sederhana.[1]
Guru, sebagai agen perubahan utama, memiliki tanggung jawab krusial untuk memahami tahapan perkembangan ini. Pemahaman ini memungkinkan penyesuaian strategi pembelajaran yang efektif, seperti menggunakan metode inquiry-based untuk siswa operasional formal atau pendekatan emosional untuk yang sedang dalam tahap identitas vs. kebingungan (Erikson). Tanpa pemahaman ini, risiko kegagalan pendidikan meningkat, termasuk dropout, rendahnya motivasi, atau masalah perilaku. Oleh karena itu, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses yang responsif terhadap kebutuhan individu siswa.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan menggambarkan secara mendalam teknik-teknik memahami perkembangan murid. Data diperoleh dari literatur sekunder seperti buku, jurnal ilmiah, dan pedoman penilaian pendidikan. Teknik pengumpulan data meliputi studi dokumentasi dan analisis pustaka. Data dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif, yaitu dengan mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan.[2]
Hasil dan Pembahasan
- Teknik Tes
Teknik tes adalah metode evaluasi yang dirancang secara sistematis dan formal untuk mengukur kemampuan siswa dalam konteks pendidikan. Pendekatan ini menekankan objektivitas, di mana hasilnya dapat diukur secara kuantitatif melalui skor atau nilai numerik, sehingga memungkinkan perbandingan antar individu atau kelompok. Bentuk tes bervariasi sesuai dengan tujuan penilaian: tes tertulis (seperti soal pilihan ganda atau esai) untuk mengukur pemahaman konseptual; tes lisan (diskusi atau presentasi verbal) untuk menilai kemampuan komunikasi; tes perbuatan (performance test), seperti demonstrasi praktis dalam eksperimen sains atau olahraga, untuk mengevaluasi keterampilan motorik; dan tes diagnostik, yang lebih spesifik untuk mengidentifikasi masalah belajar seperti disleksia atau kesulitan matematika.
Menurut Muqoffi (2024), keunggulan utama teknik tes terletak pada objektivitasnya hasil tidak dipengaruhi oleh subjektivitas penilai—dan kemampuan untuk memberikan data yang konsisten dan dapat direplikasi. Ini membuat tes ideal untuk penilaian skala besar, seperti ujian nasional, di mana perbandingan antar siswa atau sekolah diperlukan. Namun, tes juga memiliki keterbatasan, seperti tidak mampu menangkap aspek emosional atau motivasi siswa, dan risiko tekanan psikologis yang dapat memengaruhi performa.
Fungsi utama teknik tes meliputi:
- Mengukur kemampuan akademik siswa Misalnya, tes matematika untuk menilai pemahaman aljabar atau geometri, memberikan skor yang menunjukkan tingkat kompetensi dasar. Mengetahui kesulitan belajar Tes diagnostik dapat mengungkap masalah spesifik, seperti kesulitan membaca, memungkinkan intervensi dini seperti remedial teaching. Menentukan tingkat pencapaian kompetensi Dalam kurikulum berbasis kompetensi, tes memverifikasi apakah siswa telah mencapai standar seperti yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan. Menjadi dasar evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran Hasil tes digunakan untuk merancang ulangan, program bimbingan, atau penyesuaian kurikulum, seperti memberikan materi tambahan bagi siswa yang tertinggal.
- Melalui tes, guru memperoleh data objektif tentang hasil belajar, tetapi ini hanya mencakup aspek kognitif dan akademik, bukan keseluruhan perkembangan seperti emosi atau sosial. Jenis-jenis tes umum dalam pendidikan meliputi:
- Tes Inteligensi Mengukur kemampuan berpikir umum, seperti logika, pemecahan masalah, dan ingatan, menggunakan instrumen seperti IQ test (misalnya, Wechsler Intelligence Scale). Ini membantu mengidentifikasi siswa berbakat atau yang memerlukan dukungan khusus.
- Tes Bakat Mengidentifikasi potensi spesifik, seperti kemampuan artistik, musik, atau olahraga, melalui tes praktis atau survei. Contohnya, tes bakat seni untuk melihat kreativitas dalam menggambar atau menyanyi.
- Tes Hasil Belajar Menilai penguasaan materi pelajaran, seperti ujian akhir semester dalam bahasa Indonesia atau sejarah, dengan fokus pada recall fakta dan aplikasi konsep.
Secara keseluruhan, teknik tes memungkinkan guru mengetahui tingkat pencapaian belajar secara kuantitatif, seperti persentase siswa yang lulus atau rata-rata skor kelas, sehingga dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat, seperti diferensiasi instruksi untuk siswa dengan kemampuan beragam.
- Teknik Non Tes
Teknik non tes adalah pendekatan informal dan fleksibel untuk mengumpulkan data kualitatif tentang perkembangan siswa, yang tidak dapat diukur melalui angka atau skor. Fokusnya adalah pada aspek subjektif dan mendalam, seperti kepribadian, emosi, dan interaksi sosial, memberikan narasi yang lebih manusiawi dibandingkan tes. Teknik ini melengkapi tes dengan mengungkap motivasi intrinsik, sikap, dan dinamika kelas yang tidak terlihat dalam hasil numerik. Meskipun subjektif, data ini bersifat holistik dan membantu guru memahami kebutuhan emosional siswa, seperti mengatasi kecemasan atau membangun empati.
Teknik non tes meliputi:
- Observasi (pengamatan Guru mengamati perilaku siswa secara sistematis selama kegiatan belajar, seperti diskusi kelas atau permainan kelompok. Contoh: Mengamati apakah siswa aktif berpartisipasi, menghindari interaksi, atau menunjukkan tanda stres. Ini membantu mengidentifikasi masalah sosial, seperti isolasi atau bullying, dan memberikan wawasan tentang perkembangan sosial siswa.
- Wawancara (interview) Diskusi langsung dengan siswa, teman sebaya, atau orang tua untuk menggali informasi mendalam. Contoh: Bertanya kepada siswa tentang alasan penurunan motivasi belajar atau kepada orang tua tentang latar belakang keluarga. Teknik ini efektif untuk memahami perspektif pribadi, seperti minat siswa terhadap mata pelajaran tertentu, dan dapat dilakukan secara terstruktur (dengan pertanyaan tetap) atau semi-terstruktur (lebih fleksibel).
- Survei tertulis untuk mengumpulkan data massal tentang sikap, minat, dan pandangan. Contoh: Angket tentang preferensi siswa terhadap metode pembelajaran (misalnya, apakah lebih suka belajar kelompok atau individu), yang membantu guru menyesuaikan pendekatan. Angket dapat berupa skala Likert untuk mengukur intensitas sikap, seperti “sangat setuju” hingga “tidak setuju”.
- Catatan anekdot (anecdotal record) Pencatatan spontan peristiwa penting atau perilaku khusus, seperti “Siswa X membantu teman yang kesulitan, menunjukkan empati tinggi” atau “Siswa Y menghindari presentasi karena takut gagal”. Ini berguna untuk melacak perkembangan jangka panjang dan memberikan konteks emosional, seperti mengidentifikasi pola kecemasan atau perkembangan positif.
- Teknik non tes memberikan data kualitatif yang mendalam, memungkinkan guru memahami karakter siswa secara holistik, seperti kebutuhan emosional atau motivasi intrinsik. Keunggulannya adalah fleksibilitas dan kemampuan menangkap nuansa yang tidak terukur, tetapi keterbatasannya adalah subjektivitas dan waktu yang diperlukan untuk analisis.
- Integrasi Teknik Tes dan Non Tes
Pemahaman menyeluruh terhadap perkembangan siswa memerlukan integrasi teknik tes dan non-tes, karena masing-masing memiliki kekuatan komplementer. Teknik tes memberikan data kuantitatif yang objektif dan mudah dibandingkan, seperti skor akademik, sementara teknik non-tes menawarkan pemahaman kualitatif yang melengkapi, seperti konteks emosional atau sosial di balik skor tersebut. Tanpa integrasi, penilaian akan tidak lengkap—tes saja mungkin mengabaikan motivasi rendah yang menyebabkan skor buruk, sedangkan non-tes saja kurang akurat untuk pengukuran kompetensi.
Integrasi dapat dilakukan melalui pendekatan triangulasi, di mana data dari kedua teknik dikombinasikan untuk analisis holistik. Contoh: Jika tes hasil belajar menunjukkan siswa A memiliki skor rendah dalam matematika, observasi dan wawancara dapat mengungkap bahwa ini disebabkan oleh kecemasan sosial, bukan kurangnya kemampuan. Guru kemudian dapat merancang intervensi seperti bimbingan kelompok atau dukungan emosional. Manfaat integrasi meliputi penilaian yang lebih objektif (dengan data tes) dan holistik (dengan non-tes), memungkinkan strategi pembelajaran yang personal, seperti blended learning yang menggabungkan evaluasi formal dan informal. Dalam praktik, ini meningkatkan efektivitas pendidikan dengan memastikan siswa tidak hanya dinilai berdasarkan angka, tetapi juga sebagai individu utuh.[3]
Fungsi utama teknik tes adalah untuk:
- Mengukur kemampuan akademik siswa.
- Mengetahui kesulitan belajar.
- Menentukan tingkat pencapaian kompetensi.
- Menjadi dasar dalam memberikan evaluasi dan tindak lanjut pembelajaran.[4] Melalui tes, guru dapat memperoleh data yang objektif mengenai hasil belajar siswa, namun teknik ini belum mampu menggambarkan keseluruhan aspek perkembangan peserta didik.
Jenis-jenis tes yang umum digunakan dalam pendidikan antara lain:
- Tes Inteligensi untuk mengukur kemampuan berpikir umum murid.
- Tes Bakat untuk mengidentifikasi potensi tertentu yang dimiliki murid.
- Tes Hasil Belajar untuk menilai penguasaan materi pelajaran.
- Melalui teknik tes, guru dapat mengetahui tingkat pencapaian belajar murid secara kuantitatif dan menentukan strategi pembelajaran yang sesuai.[5]
Teknik non tes merupakan cara memperoleh data tentang perkembangan siswa yang tidak dapat diukur dengan angka. Teknik ini meliputi:
- Observasi (pengamatan): guru mengamati perilaku siswa selama kegiatan belajar dan interaksi sosial.
- Wawancara (interview): menggali informasi langsung dari siswa, teman sebaya, atau orang tua.
- Angket (kuesioner): untuk mengetahui sikap, minat, dan pandangan siswa terhadap suatu hal.
- Catatan anekdot (anecdotal record): mencatat peristiwa penting atau perilaku khusus siswa.
- Sosiometri: mengidentifikasi hubungan sosial antar siswa di dalam kelas. Teknik non tes memberikan data yang bersifat kualitatif dan mendalam, sehingga membantu guru memahami karakter dan kebutuhan emosional siswa.[6]
Integrasi Teknik Tes dan Non Tes Pemahaman yang menyeluruh terhadap perkembangan siswa hanya dapat diperoleh apabila guru mengombinasikan kedua pendekatan tersebut. Teknik tes memberikan data kuantitatif, sementara teknik non tes memberikan pemahaman kualitatif yang melengkapi hasil tes. Integrasi keduanya dapat membantu guru menilai perkembangan siswa secara lebih objektif dan holistik.
Kesimpulan
Pemahaman terhadap perkembangan murid sangat penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Guru perlu memanfaatkan teknik tes untuk menilai kemampuan akademik dan teknik non tes untuk menilai aspek kepribadian, sosial, dan emosional siswa. Dengan menggabungkan kedua teknik tersebut, guru dapat memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang kondisi dan potensi setiap peserta didik. Pemahaman yang baik ini akan berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran dan perkembangan siswa secara optimal.
Pemahaman mendalam terhadap perkembangan murid merupakan elemen krusial dalam ekosistem pendidikan, karena memengaruhi efektivitas proses pembelajaran dan pertumbuhan siswa secara keseluruhan. Sebagaimana dibahas, perkembangan siswa mencakup dimensi kognitif, afektif, psikomotorik, dan sosial, yang bervariasi berdasarkan tahapan seperti teori Piaget atau Erikson. Tanpa pemahaman ini, guru berisiko menerapkan strategi yang tidak sesuai, seperti kurikulum yang terlalu maju bagi siswa pra-operasional atau kurangnya dukungan emosional bagi yang mengalami konflik identitas.
Guru perlu memanfaatkan teknik tes sebagai alat utama untuk menilai kemampuan akademik secara objektif dan kuantitatif, seperti melalui tes inteligensi, bakat, atau hasil belajar, yang memberikan data perbandingan dan dasar evaluasi. Di sisi lain, teknik non-tes, seperti observasi, wawancara, angket, catatan anekdot, dan sosiometri, digunakan untuk menggali aspek kepribadian, sosial, dan emosional yang bersifat kualitatif, membantu mengidentifikasi motivasi intrinsik, dinamika kelas, atau kebutuhan emosional seperti empati atau pengelolaan stres. Kedua teknik ini saling melengkapi, di mana tes memberikan fondasi objektif untuk aspek kognitif, sementara non-tes menambahkan lapisan subjektif yang mendalam.
Integrasi kedua teknik, melalui pendekatan seperti triangulasi data, memungkinkan guru memperoleh pemahaman komprehensif tentang kondisi dan potensi setiap siswa. Misalnya, kombinasi skor tes dengan observasi dapat mengungkap bahwa skor rendah bukan hanya kesulitan akademik, melainkan juga masalah sosial seperti isolasi, sehingga intervensi dapat lebih tepat sasaran. Hal ini menghasilkan penilaian yang lebih holistik, objektif, dan responsif, mendorong diferensiasi pembelajaran yang personal.
Pemahaman yang baik ini berdampak signifikan pada peningkatan kualitas pembelajaran, seperti melalui strategi blended learning yang menggabungkan evaluasi formal dan informal, serta perkembangan siswa secara optimal, termasuk peningkatan motivasi, kreativitas, dan kesejahteraan psikologis. Secara praktis, guru dianjurkan untuk menerapkan integrasi ini secara rutin, seperti melalui portofolio siswa yang mencakup hasil tes dan catatan observasi, untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan efektif. Penelitian lebih lanjut dapat mengeksplorasi implementasi digital untuk teknik ini, seperti aplikasi sosiometri online, guna mendukung pendidikan abad ke-21. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan individu yang utuh dan siap menghadapi tantangan masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Desmita. (2017). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.
[2] Rangkuti, Ahmad Nizar. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, PTK, dan Penelitian Pengembangan. Citapustaka Media, 2016.
[3] Muqoffi, Wasik. Karya Tulis Ilmiah: Panduan Praktis Menyusun Karya Tulis Ilmiah. PT. Sonpedia Publishing Indonesia, 2024.
[4] Arikunto, S. (2019). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
[5] Nurgiyantoro, B. (2018). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
[6] Mardapi, D. (2017). Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Parama Publishing.

Leave a Reply