
oleh: Wasilatur Rohmah (Ikatan Mahasiswa Gedangan)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling (BK) di Sekolah Dasar (SD) dalam mendukung pencapaian perkembangan optimal peserta didik sesuai potensi, minat, serta nilai-nilai kehidupan yang dianut. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan menelaah berbagai literatur yang relevan mengenai konsep, paradigma, dan implementasi layanan BK di tingkat pendidikan dasar. Hasil kajian menunjukkan bahwa lembaga pendidikan formal, termasuk SD, memiliki tiga aktivitas utama yang saling bersinergi dalam mencapai tujuan pendidikan, yaitu aktivitas instruksional-kurikuler, aktivitas administrasi dan supervisi, serta aktivitas bimbingan dan layanan kesejahteraan siswa. Program BK perkembangan berperan sebagai layanan khusus yang memfasilitasi peserta didik untuk mencapai tugas-tugas perkembangan sesuai jenjang pendidikannya. Program ini meliputi empat komponen utama, yakni layanan dasar BK, layanan responsif, layanan perencanaan individual, dan dukungan sistem. Pelaksanaan program BK di SD umumnya dilakukan oleh guru kelas yang berperan memberikan layanan bimbingan dan konseling di kelas masing-masing. Melalui sinergi antara layanan BK dan kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat berkembang secara optimal dalam aspek akademik, sosial, dan emosional.
Kata Kunci : Bimbingan, Konseling, Siswa
Pendahuluan
Sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah (SD/MI) merupakan tahap awal yang menentukan perkembangan peserta didik dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada usia ini, siswa sering kali menunjukkan dinamika perilaku yang kompleks. Beberapa siswa mampu menyesuaikan diri dengan baik, sementara sebagian lainnya menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma sekolah, seperti tidak disiplin, agresif, atau kurang mampu bekerja sama dengan teman sebaya. Masalah perilaku tersebut, jika tidak ditangani dengan baik, dapat mengganggu proses belajar mengajar dan perkembangan kepribadian siswa. Oleh karena itu, guru dan konselor perlu merancang program bimbingan yang tidak hanya bersifat korektif, tetapi juga preventif dan pengembangan potensi. Program bimbingan berkembang menjadi salah satu solusi yang sesuai, karena berorientasi pada kebutuhan perkembangan siswa secara holistik.[1]
Di dalam suatu organisasi pendidikan dalam hal ini sekolah, pengelolaan program bimbingan dan konseling sudah dilakukan dengan baik, tetapi di dalam pelaksanaannya sehari-hari kadang selalu timbul masalah yang menyebabkan program yang sudah dibuat sebelumnya menjadi tidak terlaksana dengan baik, hal inilah yang kadang menjadi pemicu salahnya pemahaman siswa tentang bimbingan dan konseling, sehingga banyak siswa yang beranggapan bahwa guru bimbingan dan konseling hanyalah tempat untuk menasihati anak-anak yang nakal dan bermasalah di sekolah, padahal program bimbingan dan konseling bukan hanya untuk menasihati anakanak yang nakal dan bermasalah disekolah karena banyak manfaat yang bisa diambil didalam program bimbingan dan konseling tersebut. Bantuan dalam arti bimbingan yaitu memfasilitasi individu untuk mengembangkan kemampuan memilih dan mengambil keputusan atas tanggung jawab sendiri. Kondisi perkembangan optimum adalah kondisi dinamis yang ditandai dengan kesiapan dan kemampuan individu untuk memperbaiki diri (self-improvement) agar dia menjadi pribadi yang berfungsi penuh (fully-fungctioning) di dalam lingkungannya.[2]
Bimbingan adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat memahami dirinya sendiri, mengenali lingkungan dan dapat mengarahkan perilakunya secara positif sehingga dapat mengatasi masalah yang dihadapinya, termasuk perilaku bermasalah. Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu agar ia dapat memahami diri, memahami lingkungan dan dapat membuat keputusan serta penyesuaian diri secara efektif bagi anak berperilaku bermasalah, bimbingan difokuskan pada upaya mengubah perilaku negatif menjadi perilaku positif. Bimbingan adalah proses kontinuitas bantuan yang sistematik untuk membantu individu dalam memahami dan mengarahkan perilakunya, sehingga mampu berkembang secara optimal. Bagi anak yang berperilaku bermasalah, bimbingan dilakukan agar mereka mampu mengatasi kesulitan emosi, sosial, maupun perilaku.[3]
Bimbingan adalah intervensi terencana yang membantu individu, termasuk anak-anak, dalam mengembangkan perilaku adaptif dan mengurangi perilaku maladaptif.[4] Untuk anak berperilaku bermasalah, bimbingan diarahkan untuk memberikan keterampilan sosial, pengendalian diri dan kesadaran diri. Bimbingan di sekolah dasar memiliki peran penting dalam membantu anak-anak yang mengalami masalah perilaku. Melalui pendekatan yang terstruktur dan empatik, guru, konselor, maupun orang tua dapat bekerja sama untuk memahami latar belakang perilaku anak dan memberikan intervensi yang tepat. Bimbingan tidak hanya bertujuan mengurangi perilaku negatif, tetapi juga membangun kemampuan anak untuk mengelola emosi, berinteraksi secara positif, dan meningkatkan kepercayaan diri.
Hasil dan Pembahasan
Program Bimbingan Berkembang
Pendekatan perkembangan dalam bimbingan merupakan pendekatan yang tepat digunakan di sekolah karena pendekatan ini lebih berorientasi pada pengembangan ekologi perkembangan peserta didik.[5] Kebutuhan akan layanan bimbingan di sekolah muncul dari karakteristik dan masalah-masalah perkembangan-perkembangan peserta didik. Konselor yang menggunakan pendekatan perkembangan melakukan identifikasi keterampilan dan pengalaman yang diperlukan siswa agar berhasil di sekolah dan dalam kehidupannya.[6]
Dalam pelaksanaan bimbingan perkembangan, guru dapat melibatkan tim kerja atau berbagai pihak yang tekait terutama orang tua siswa, sehingga akan lebih efektif ketimbang bekerja sendiri. Bimbingan perkembangan dirancang secara sistem terbuka, dengan demikian penyempurnaan dan modifikasi dapat dilakukan setiap saat sepanjang diperlukan. Bimbingan perkembangan mengintegrasikan berbagai pendekatan dan orientasinya multibudaya, sehingga tidak mencabut klien dari akar budayannya. Tidak fanatik menolak suatu teori, melainkan meramu apa yang terbaik dari masing-masing terapi dan yang lebih penting lagi mengkaji bagaimana masing-masing terapi lebih penting lagi mengkaji bagaimana masing-masing terapi bermanfaat bagi klien atau keluarga.[7]
Menjelaskan bahwa model bimbingan yang berkembang saat ini adalah bimbingan perkembangan, yaitu pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik yang dilakukan secara berkesinambungan agar mereka dapat memahami dirinya, lingkungan dan tugas-tugasnya sehingga mereka sanggup mengarahkan diri, menyesuaikan diri, serta bertindak wajar sesuai dengan keadaan dan tuntutan lembaga pendidikan, keluarga, masyarakat dan lingkungan kerja yang akan dimasuki kelak. Visi bimbingan perkembangannya bersifat edukatif, pengembangan, dan outreach. Edukatif, titik berat layanan bimbingan perkembangan ditekankan pada pencegahan dan pengembangan, bukan korektif atau terapeutik, walaupun layanan tersebut juga tidak diabaikan.[8]
Pengembangan, titik sentral sasaran bimbingan perkembangan adalah perkembangan optimal seluruh aspek kepribadian individu dengan strategi atau upaya pokoknya memberikan kemudahan perkembangan melalui perekayasaan lingkungan perkembangan. Outreach dan target populasi layanan bimbingan perkembangan tidak terbatas pada individu yang bermasalah, tetapi semua individu berkenaan dengan semua aspek kepribadiannya dalam semua konteks kehidupan. Teknik bimbingan yang digunakan meliputi teknik pembelajaran, pertukaran infofmasi.[9]
Perkembangan secara esensial membantu individu untuk memiliki kesadaran secara Model bimbingan perkembangan memungkinkan konselor untuk memfokuskan tidak sekedar terhadap gangguan emosional klien, melainkan lebih mengupayakan pencapaian tujuan dalam kaitan penguasaan tugas-tugas perkembangan, menjembatani tugas-tugas yang muncul pada saat tertentu dan meningkatkan sumberdaya dan kompetensi dalam memberikan bantuan terhadap pola perkembangan yang optimal dari klien. Asumsi dasar bimbingan individu akan perkembangan, yaitu perkembangan berlangsung dalam interaksi yang sehat antara individu dengan lingkungan. Asumsi ini membawa dua implikasi pokok bagi pelaksanaan bimbingan di sekolah:
- Perkembangan adalah tujuan bimbingan, oleh karena itu para petugas di sekolah perlu memiliki suatu kerangka berfikir konseptual untuk memahami perkembangan siswa sebagai dasar perumusan isi dan tujuan bimbingan
- Interaksi yang sehat merupakan suatu iklim perkembangan yang harus dikembangkan oleh petugas bimbingan. Oleh karena itu petugas harus menguasai pengetahuan dan keterampilan khusus untuk pengembangan interaksi yang sehat sebagai pendukung sistem peluncuran bimbingan di sekolah
- Perkembangan prilaku yang efektif dapat dilihat dari tingkat pencapaian tugas-tugas perkembangan dalam setiap tahapan perkembangan.[10]
Oleh karena itu untuk memahami karakteristik siswa di sekolah sebagai dasar untuk pengembangan program bimbingan di sekolah difokuskan pada pencapaian tugas-tugas perkembangannya. Mengkaji tugas-tugas perkembangan merupakan hal yang penting dan menjadi dasar bagi pengembangan dan peningkatan mutu layanan bimbingan. Dalam konteks maka bimbingan perkembangan, perkembangan perilaku yang efektif sebagai tujuan pelaksanaan bimbingan dapat dilihat dari tingkat pencapaian tugas-tugas perkembangan.[11] Memahami karakteristik siswa di sekolah sebagai dasar untuk pengembangan program bimbingan yang difokuskan kepada pencapaian tugas-tugas perkembangan siswa. Mengkaji tugas-tugas perkembangan merupakan hal yang penting dan menjadi dasar perkembangan dan peningkatan mutu layanan bimbingan.
Secara konseptual, tugas-tugas pengembangan adalah tugas-tugas yang muncul pada saat atau suatu periode tertentu dari kehidupan individu yang jika saat berhasil akan menimbulkan rasa bahagia dan membawa kearah keberhasilan dalam melaksanakan tugas-tugas berikutnya, sementara kegagalan dalam melaksanakan tugas tersebut menimbulkan rasa tidak bahagia, ditolak oleh masyarakat dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Mengingat bimbingan merupakan bagian integral dari pendidikan, maka tujuan pelaksanaan bimbingan.
Konseling bagi siswa berprilaku masalah
Proses belajar di kelas peserta didik juga harus mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok. Dalam kehidupan kelompok perlu adanya toleransi atau tenggang rasa, saling memberi dan saling menerima. Bimbingan sosial ini dimaksud untuk membantu peserta didik dalam memecahkan dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan masalah peserta didik, sehingga terciptalah suasana belajar mengajar yang kondusif.[12] Dalam proses belajar mengajar, guru dapat memperhatikan atau dapat melihat peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Peserta didik yang selalu keluar masuk kelas pada saat proses belajar mengajar dapat dikatakan peserta didik tersebut mengalami kesulitan saat belajar, seperti tidak menyenangi pelajaran tersebut atau gurunya yang tidak dia senangi. Begitupun dengan peserta didik yang suka menggangu teman atau gelisah, kemungkinan peserta didik tersebut mengalami masalah yang sama peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dapat teratasi, tetapi sebelumnya guru harus mengadakan observasi atau tingkah laku dari peserta didik tersebut, setelah mengetahui faktor yang menyebabkan peserta didik tersebut mengalami kesulitan belajar dan guru mampu mengupayakan tindak lanjutnya.
Begitupun dengan peserta didik lainnya yang mempunyai permasalahan yang sama dalam proses belajar mengajar. Bukan karena mata pelajarannya yang tidak disenangi akan tetapi terkadang gurunya yang kurang menyenangkan saat memberikan pelajaran.[13] Salah satu faktor mengapa peserta didik mengalami kesulitan belajar, dikarenakan cara gurunya mengajar yang kurang efektif sehingga membuat peserta didik bosan mengikuti pelajaran tersebut. Adakalanya peserta didik mengalami kesulitan belajar dan bahkan tidak mengikuti pelajaran tersebut karena gurunya yang kurang aktif dalam memberi pelajaran. Sebagai wali kelas, dengan memperhatikan dan mengetahui bahwa peserta didik tersebut mengalami kesulitan belajar, maka guru itu sendiri yang menasehatinya akan tetapi apabila guru tersebut tidak mampu menyelesaikan permasalahannya maka langkah selanjutnya yang dilakukan adalah memberitahu guru bimbingan konseling untuk menindaklanjuti bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar hanya karena permasalahan yang kurang serius, maka langkah yang dilakukan adalah mewawancarainya untuk mengetahui penyebabnya dan setelah itu memberikan nasehat-nasehat yang bersifat membangun sehingga peserta didik merasa tertolong dan mendapatkan motivasi untuk kembali aktif mengikuti pelajaran.[14] Setiap siswa mempunyai masalah yang berbeda khususnya dalam pelajaran yang kurang disenangi, dengan adanya masalah yang seperti itu maka guru bimbingan dan konseling harus berperan dalam memberikan solusi dan arahan yang dapat memberi perubahan terhadap siswa itu. Layanan bimbingan merupakan bagian dari integral dari upaya dan pengembangan individu bimbingan harus fleksibel sesuai dengan kebutuhan individu, proses bimbingan keputusan yang diambil dan dilaksanakan oleh individu hendaknya atas kemampuan individu itu sendiri, agar individu yang mengalami permasalahan akhirnya mampu membimbing diri sendiri.
Bimbimgan bagi Murid Berprilaku Bermasalah
Bimbingan siswa merupakan kegiatan atau tindakan guru dalam rangka penyediaan kondisi yang optimal agar proses belajar mengajar berlangsung efektif. Tindakan tersebut berupa tindakan yang bersifat pencegahan dan atau tindakan yang bersifat dapat kuratif.[15] Dalam mengembangkan keterampilan membimbing para siswanya yang bersifat preventif, guru dapat mengembangkan kemampuannya dengan cara :
- Menunjukan sikap tanggap dalam tugas mengajarnya guru harus terlibat secara fisik maupun mental dalam arti guru selalu memiliki waktu untuk semua perilaku peserta didik, baik peserta didik yang memiliki perilaku positif maupun negatif. Guru harus terlibat secara fisik dan mental selama proses belajar mengajar. Keterlibatan fisik tampak dari gerak dan perhatian guru terhadap seluruh siswa di kelas, sedangkan keterlibatan mental terlihat dari kesadaran guru dalam memahami kebutuhan, emosi, dan dinamika siswa. Menjadi guru profesional, guru yang tanggap mampu mengenali tanda-tanda awal gangguan belajar atau perilaku menyimpang, sehingga dapat segera memberikan intervensi. Sikap tanggap ini juga menumbuhkan rasa aman dan nyaman bagi siswa, karena mereka merasa diperhatikan.[16]
- Membagi perhatian, guru harus mampu membagi perhatian kepada semua peserta didik. Perhatian itu dapat bersifat visual (tatapan, posisi tubuh, kontak mata) maupun verbal (sapaan, pertanyaan, atau instruksi lisan) dalam strategi belajar mengajar, kemampuan membagi perhatian merupakan keterampilan utama dalam pengelolaan kelas. Guru yang mampu mengatur perhatian dengan baik dapat menjaga partisipasi seluruh siswa dan mengurangi perilaku off-task (tidak fokus).[17]
- Memusatkan perhatian kelompok, mempertahankan dan meningkatkan keterlibatan peserta didik dengan cara memusatkan kelompok kepada tugas-tugasnya dari waktu ke waktu. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan selalu menyiagakan peserta didik dan menuntut tanggung jawab akan tugas-tugasnya. Pemusatan perhatian kelompok dapat dilakukan dengan memberikan tanda, pertanyaan pemandu, atau arahan verbal agar siswa tidak kehilangan fokus.
- Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas, pertunjukan ini dapat dilakukan untuk materi yang disampaikan, tugas yang diberikan dan perilaku-perilaku peserta didik lainnya yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung pada pelajaran. Dalam menjadi guru profesional, pemberian petunjuk yang kurang jelas dapat menyebabkan siswa salah mengartikan perintah guru dan menurunkan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus menjelaskan langkah-langkah kegiatan secara rinci, dan bila perlu menuliskannya di papan tulis.
- Menegur, tegurlah peseta didik bila mereka menunjukan perilaku yang mengganggu atau menyimpang.[18] Guru perlu menegur peserta didik yang menunjukkan perilaku mengganggu dengan cara yang tepat, tegas, namun tetap menghargai martabat siswa. Tujuan teguran bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk mengarahkan siswa kembali ke perilaku yang sesuai. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, teguran harus dilakukan dengan pendekatan yang proporsional dan edukatif. Teguran yang baik dilakukan segera setelah perilaku menyimpang terjadi, disampaikan dengan nada lembut tetapi tegas, dan diikuti dengan penguatan positif ketika siswa memperbaiki perilakunya. Sampaikan teguran itu dengan tegas dan jelas tertuju pada perilaku yang mengganggu, menghindari ejekan dan peringatan yang kasar dan menyakitkan. Memberikan penguatan, prilaku peserta didik baik yang positif maupun negatif perlu memperoleh penguatan. Perilaku positif diberikan penguatan agar perilaku tersebut muncul kembali. Perilaku negatif diberikan penguatan dengan cara memberi teguran atau hukuman agar perilaku tersebut tidak akan terjadi kembali.[19]
Jenis jenis masalah prilaku murid masalah perilaku pada murid sekolah dasar dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, meliputi masalah sosial-emosional, perilaku agresif, kesulitan belajar, dan masalah disiplin. Penyebabnya bisa berasal dari faktor internal seperti gangguan perkembangan, hingga faktor eksternal seperti lingkungan keluarga dan sekolah.[20]
- Masalah sosial dan emosional Kesulitan bersosialisasi: Beberapa murid kesulitan berinteraksi atau berteman dengan teman sebayanya, yang bisa membuat mereka merasa terisolasi atau kesepian. Perundungan ( bullying) : Murid bisa menjadi pelaku, korban, atau bahkan keduanya. Perundungan dapat berupa ejekan, kekerasan fisik, maupun pengucilan. Pengelolaan emosi tidak stabil : Murid SD sering kali masih belajar mengelola emosinya, yang bisa menyebabkan mereka mudah marah, cemburu, atau merasa sedih dan takut secara berlebihan.
- Masalah perilaku agresif dan disruptif.
Agresi fisik: Perilaku ini ditunjukkan dengan tindakan fisik seperti memukul, menendang, atau menggigit teman.
- Agresi verbal: Perilaku agresif yang diungkapkan melalui kata-kata, seperti membantah, berkata kasar, atau mengolok-olok teman.
- Perilaku mengganggu: Murid yang disruptif sering kali membuat keributan di kelas, berbicara sendiri, atau melamun saat guru mengajar.
- Pembangkangan : Menunjukkan sikap tidak patuh terhadap guru atau menolak mengikuti aturan sekolah.
- Masalah terkait pembelajaran
- Kurangnya motivasi belajar: Murid kehilangan semangat atau minat terhadap pelajaran, yang dapat memuat mereka enpoœoggan mengerjakan tugas atau PR.
- Kesulitan belajar: Memiliki masalah dalam memahami materi pelajaran tertentu, seperti matematika atau kemampuan berbahasa.
- Gangguan konsentrasi: Sulit untuk fokus dalam waktu yang lama, sehingga mudah bosan, lupa, atau terganggu oleh hal-hal lain di sekitarnya.
- Menyontek: Perilaku curang yang menunjukkan kurangnya kejujuran dan pemahaman terhadap nilai-nilai moral.
- Masalah disiplin
- Sering bolos atau malas sekolah: Menunjukkan penolakan terhadap kewajiban sekolah, dengan alasan yang beragam. Melanggar aturan: Tidak mematuhi aturan aturan yang berlaku di sekolah, seperti tidak memakai seragam y ang sesuai atau tidak menyelesaikan tugas tepat waktu.
- Perilaku tidak sopan: Menunjukkan sikap kurang hormat terhadap guru atau orang yang lebih tua.
Mengatasi Masalah Perilaku Murid SD
Pendekatan yang efektif untuk mengatasi masalah perilaku ini meliputi kolaborasi antara guru, orang tua, dan murid:
- Komunikasi: Guru dan orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan murid untuk memahami akar masalahnya.
- Strategi pembelajaran bervariasi: Guru dapat menggunakan metode pembelajaran yang lebih menarik dan beragam untuk meningkatkan minat dan motivasi belajar murid.
- Pendekatan personal: Guru memberikan perhatian dan pendekatan personal kepada murid yang bermasalah agar mereka merasa lebih dihargai dan dimengerti.
- Aturan yang jelas: Sekolah dan kelas harus memiliki aturan yang jelas dengan konsekuensi yang konsisten. Ini membantu murid memahami batasan dan harapanyang diberikan kepada mereka. Penguatan positif: Berikan pujian atau penghargaan kepada murid ketika mereka menunjukkan perilaku yang baik, sebagai bentuk penguatan positif. Kolaborasi dengan ahli: Untuk kasus yang lebih kompleks, guru dan orang tua bisa berkolaborasi dengan ahli seperti psikolog anak untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.
Kesimpulan
Program bimbingan berkembang merupakan pendekatan yang efektif untuk mengatasi masalah perilaku siswa SD/MI. Melalui layanan orientasi, informasi, konseling, maupun bimbingan kelompok, guru dan konselor dapat membantu siswa mengatasi perilaku bermasalah sekaligus mengembangkan potensi mereka. Jenis masalah perilaku yang kerap muncul, seperti agresif, kurang disiplin, rendah motivasi, kesulitan konsentrasi, serta hambatan interaksi sosial, dapat ditangani melalui bimbingan yang sistematis dan berkesinambungan. Dengan adanya kolaborasi antara sekolah, guru, konselor, dan orang tua, program ini dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi perkembangan siswa secara menyeluruh.
Perilaku bermasalah adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu mengganggu proses pembelajaran melainkan suatu bentuk perilaku agresif maupun pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerjasama dengan teman. Bentuk-bentuk perilaku bermasalah yaitu rasionalisasi, sikap bermusuhan, menghukum diri sendiri, represi, konformitas, sinis, proyeksi, intelektualisasi. Masalah-masalah yang berkaitan dengan karakteristik perkembangan anak ialah perkembangan fisik dan kesehatan, perkembangan diri, perkembangan sosial. Teknik umum tersebut diantaranya adalah perilaku attending, empati, refleksi, eksplorasi, dan paraphrasing.
Daftar Pustaka
[1] Sudarmin. 2021. “Peran Pendidik Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Kejujuran Melalui Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn) Pada Peserta Didik Di Sekolah Dasar.” Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Guru SekolahDasar (JPPGuseda) Volume 04,: 259–62.
[2] Muhibbin Syah. 2013. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[3] Prayitno. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta. 2004.
[4] Surya, M. Psikologi Anak yang Bermasalah. Bandung: Pustaka Bani 2006 Quraisy.
[5] Asmani, J. M. Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah. ( Jogjakarta: Dive Press 2010 )
[6] Asmani. Bimbingan dan Konseling Di Sekolah . (Jogjakarta: Diva Press. 2010)
[7] Ekayanti, N. A., & Sumarwoto, V. D. Peningkatkan Sikaρ Empati Melalui Bimbingan Kelompok. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 2015. 22-36.
[8] Fadillah, Nurul. Bimbingan Anak Berperilaku Bermasalah. ( Makassar: Universitas Megarezky . 2020.)
[9] Masdudi. Bimbingan dan Konseling Perspektif Sekolah. (Cirebon: Nurjati Press IAIN Syekh Nurjati Cirebon. 2015 )
[10] Mutiara, J. Bimbingan Bagi Anak Yang Berperilaku Bermasalah. ( Makassar : Universitas Megarezky. 2019 )
[11] Prayitno, & Amti, E. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. ( Jakarta: Rineka Cipta. 2018)
[12] Mar’atur Rafiqah. “Pengarug Mitivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Siswa.” Jurnal Bimbingan Konseling Vol. 2. .2013.
[13] Anas, Salahudin. Bimbingan Dan Konseling. Bandung: Pustaka Setia. 2010
[14] Tohirin. Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah Berbasis Integrasi Jakarta : 2007 PT. Raja Grafindo Persada.
[15] Sukmadinata, N. S. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya 2020)
[16] Djamarah, S. B., & Zain, A. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta 2010
[17] Sanjaya, W. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. 2010
[18] pendidikan Sunaryo Kartadinata. Bimbingan di Sekolah Dasar. (Bandung : Departemen dan kebudayaan 1998.)
[19] W.S. Winkel dan M.M. Sri Hastuti. Bimbingan dan konseling di institusi pendidikan, (Yogyakarta: Media Abadi. 2010)
[20] Yusufi dkk. landasan bimbingan dan konseling. ( Bandung : Remaja rosdakarya. 2008 )

Leave a Reply