
oleh: Imam Mulyono
ABSTRAK
Perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi digital membawa perubahan besar bagi pendidikan Islam, termasuk pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional yang memiliki peran penting dalam pembentukan moral dan karakter keislaman. Arus budaya global, akses informasi tanpa batas, serta persaingan dengan lembaga modern menuntut pesantren untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas tradisionalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan pesantren dalam menghadapi globalisasi dan digitalisasi, menganalisis peran kepemimpinan kiai dalam mengelola perubahan, merumuskan strategi adaptasi yang dapat diterapkan serta memetakan peluang transformasi digital yang dapat mendukung modernisasi pesantren tanpa menghilangkan nilai tradisi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui analisis literatur dan interpretasi tematik terhadap fenomena sosial, budaya dan manajerial di lingkungan pesantren. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa globalisasi dan digitalisasi membawa tantangan besar bagi pesantren, mulai dari penetrasi budaya populer, risiko konten negatif, rendahnya literasi digital, hingga persaingan dengan lembaga pendidikan modern. Namun demikian, kepemimpinan kiai berperan sentral dalam mempertahankan tradisi sekaligus mendorong inovasi melalui fungsi spiritual, edukatif, manajerial, sosial dan transformasional.
Kata kunci: Globalisasi, Era Digital, Kepemimpinan, Pesantren
PENDAHULUAN
Perkembangan globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi digital membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan Islam, khususnya pesantren. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren dituntut untuk mampu menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur Islam di tengah derasnya arus budaya global yang sering kali tidak sejalan dengan karakter pesantren. Tantangan seperti masuknya budaya populer, akses informasi tanpa batas serta tekanan persaingan dengan lembaga pendidikan modern menempatkan pesantren pada posisi yang harus cepat beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.
Selain tantangan globalisasi, era digital menghadirkan persoalan baru seperti kesenjangan literasi digital, keterbatasan infrastruktur teknologi, kurangnya kompetensi digital pengajar serta risiko paparan konten negatif dari internet. Hal ini menuntut pesantren untuk memperbarui kurikulum, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengembangkan strategi adaptif agar relevan dengan kebutuhan zaman. Dalam konteks ini, kepemimpinan pesantren khususnya peran kiai memegang peranan sangat penting sebagai figur spiritual, edukatif, manajerial dan transformasional yang menentukan arah pembaruan dan penguatan pesantren.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, era digital juga memberikan peluang besar bagi pesantren untuk melakukan transformasi. Pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran, pengembangan konten digital keagamaan, perluasan jejaring kerja sama serta digitalisasi manajemen pesantren membuka ruang inovasi yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas jangkauan dakwah. Oleh karena itu, penting bagi pesantren untuk mengembangkan strategi yang tepat agar mampu bersaing secara global sekaligus tetap mempertahankan tradisi dan nilai-nilai keislaman yang menjadi karakter utamanya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan secara mendalam berbagai tantangan, peran kepemimpinan, strategi adaptasi, serta peluang pesantren dalam menghadapi globalisasi dan era digital. Pendekatan ini dipilih karena penelitian berfokus pada pemahaman fenomena sosial, budaya dan manajerial yang terjadi di lingkungan pesantren serta interpretasi makna di balik perubahan yang muncul akibat perkembangan teknologi.
HASIL ATAU PEMBAHASAN
A. Tantangan Globalisasi bagi Pesantren
Globalisasi membawa perubahan besar dalam pola hidup masyarakat, termasuk para santri di lingkungan pesantren. Salah satu tantangan terbesar yang muncul adalah masuknya arus budaya asing yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai pesantren. Kebebasan akses informasi melalui internet, media sosial, dan hiburan digital memungkinkan budaya luar masuk begitu cepat tanpa filter. Budaya populer yang menonjolkan gaya hidup konsumtif, hedonis dan bebas sering kali bertentangan dengan karakter pesantren yang menekankan kesederhanaan, kedisiplinan dan akhlak. Hal ini berpotensi mempengaruhi pola pikir serta perilaku santri apabila tidak diimbangi dengan arahan dan penguatan karakter keagamaan. Sebagaimana dijelaskan, perubahan budaya global dapat menggoyahkan sistem nilai pesantren yang telah lama melekat dalam tradisi pendidikan Islam. [1]
Pesantren juga dihadapkan pada tuntutan penguasaan teknologi yang semakin tinggi. Di era digital, santri tidak cukup hanya memahami kitab kuning dan ilmu keagamaan, tetapi juga harus menguasai perangkat teknologi informasi agar mampu bersaing dalam dunia modern dan memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah.[2] Kesadaran akan pentingnya literasi digital ini yang menyatakan bahwa pendidikan Islam harus adaptif terhadap perkembangan teknologi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Tantangan ini semakin berat ketika fakta menunjukkan bahwa tidak semua pesantren memiliki fasilitas teknologi yang memadai, serta masih banyak pengajar yang belum terampil dalam penggunaan media digital sebagai alat pembelajaran.[3]
Globalisasi juga memicu persaingan yang semakin ketat antara pesantren dan lembaga pendidikan modern. Sekolah unggulan, madrasah berkurikulum internasional, dan lembaga pendidikan berbasis digital menawarkan fasilitas canggih, metode pembelajaran interaktif, serta standar pendidikan global. Jika pesantren tidak melakukan pembaruan, baik dalam aspek manajemen, kurikulum, maupun sarana prasarana, maka posisinya dapat tergeser di mata masyarakat.[4] pesantren perlu bertransformasi agar tetap menjadi pilihan masyarakat dalam dunia pendidikan kontemporer.
Tantangan berikutnya adalah akses informasi dari internet yang tidak tersaring. Meski memberi peluang belajar lebih luas, internet juga menjadi sumber risiko. Tanpa literasi digital yang baik, santri mudah terpapar berbagai konten negatif seperti hoaks, ujaran kebencian, radikalisme digital, pornografi dan informasi yang menyesatkan. Kondisi ini tentu bertentangan dengan tujuan pesantren dalam membentuk karakter moral dan akhlak yang kuat.[5] Dalam menekankan bahwa kemampuan memilah informasi dan memahami etika bermedia menjadi kebutuhan mendesak di lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren. Tanpa penguatan literasi digital, pembinaan santri akan semakin sulit di tengah derasnya arus informasi global.
Secara keseluruhan, globalisasi menuntut pesantren untuk melakukan adaptasi besar tanpa kehilangan identitas. Pesantren harus mampu mempertahankan nilai luhur tradisi sambil membuka diri terhadap inovasi dan teknologi agar tetap relevan dan berdaya saing dalam masyarakat modern.
B. Tantangan Pesantren di Era Digital
Pesantren di era digital menghadapi berbagai tantangan yang kompleks, karena kemajuan teknologi memengaruhi cara belajar, pola komunikasi dan akses informasi bagi santri. Salah satu tantangan utama adalah kesenjangan literasi digital.[6] Banyak pesantren belum memiliki infrastruktur teknologi yang memadai, seperti jaringan internet stabil, laboratorium komputer, atau perangkat pembelajaran berbasis digital. Akibatnya, santri dan sebagian pengajar belum sepenuhnya menguasai keterampilan digital, termasuk kemampuan menggunakan aplikasi pembelajaran online, mengelola informasi secara kritis dan menjaga keamanan data pribadi.[7] Hal ini yang menekankan pentingnya literasi digital sebagai kompetensi utama bagi pendidikan Islam modern.
Jal informasi yang tidak tersaring dari internet juga menjadi tantangan signifikan. Santri yang memiliki akses tanpa filter terhadap media sosial, berita online dan platform hiburan berisiko terpapar hoaks, konten radikalisme, pornografi atau nilai yang tidak sesuai dengan tradisi pesantren. Pesantren harus mampu membimbing santri agar memilah informasi dengan kritis dan menerapkan etika bermedia.
Kebutuhan kurikulum baru yang relevan dengan era digital juga menjadi isu penting.[8] Materi pembelajaran tidak lagi cukup hanya mengandalkan kitab kuning dan ilmu agama klasik; kurikulum harus memasukkan literasi digital, kewirausahaan berbasis teknologi, komunikasi digital serta pengenalan coding dan teknologi sederhana. Hal ini menuntut pengajar untuk memiliki kompetensi digital yang memadai agar mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran dan administrasi pesantren.
Pesantren harus menghadapi persaingan dengan lembaga pendidikan modern yang menawarkan fasilitas canggih, pembelajaran interaktif berbasis digital dan standar internasional. Tanpa adaptasi, pesantren berisiko kehilangan minat masyarakat dan relevansi di era modern. Maka dari itu pesantren harus mengembangkan strategi transformasi digital yang menjaga keseimbangan antara modernisasi dan nilai tradisi.[9]
Secara keseluruhan, tantangan di era digital menuntut pesantren untuk menguatkan literasi digital santri dan pengajar, memperbarui kurikulum, meningkatkan infrastruktur teknologi dan memperkuat manajemen pendidikan. Dengan strategi yang tepat, pesantren dapat menjadi lembaga pendidikan yang modern, tetap mempertahankan nilai tradisi dan mampu bersaing secara global.
C. Peran Kepemimpinan Pesantren
Kepemimpinan pesantren memegang peran sentral dalam menentukan arah, identitas dan keberlangsungan lembaga. Pemimpin pesantren atau kiai tidak hanya berperan sebagai pemegang kekuasaan administratif, tetapi juga sekaligus menjadi figur spiritual, teladan moral dan penggerak utama seluruh proses pendidikan.[10] Kepemimpinan pesantren menjadi unik karena menggabungkan otoritas agama, budaya dan sosial dalam satu figur yang berpengaruh.
Dalam aspek spiritual, kiai bertugas menjaga tradisi keagamaan Islam dan menjadi teladan dalam menjalankan ibadah dan berakhlak. Ia membimbing santri melalui pengajian kitab kuning, aktivitas zikir, mujahadah serta kegiatan keagamaan lainnya.[11] Peran ini menjadikan kiai sebagai sumber nilai dan pencerahan moral bagi seluruh warga pesantren.
Pada aspek edukatif, kiai menentukan arah pendidikan, menyusun kurikulum dan memilih metode pengajaran seperti sorogan, bandongan dan halaqah. Ia memastikan bahwa proses belajar berjalan sesuai tradisi keilmuan Islam dan diarahkan pada pembentukan santri yang berilmu, berakhlak dan bermanfaat.[12]
Secara manajerial, kiai bertanggung jawab atas pengelolaan pesantren, mencakup manajemen organisasi, administrasi, keuangan dan pengembangan sarana prasarana. Ia juga menetapkan tata tertib dan kebijakan untuk menjaga keberlangsungan pesantren secara efektif dan mandiri.[13]
Dalam peran sosial, kiai menjadi tokoh masyarakat yang dihormati. Ia sering tampil sebagai mediator, penasihat dan pembimbing masyarakat dalam urusan sosial dan keagamaan. Karena itu, pengaruh kepemimpinan pesantren tidak hanya dirasakan di lingkungan internal, tetapi juga di masyarakat sekitar.[14] Selain itu, kiai berperan sebagai pemimpin transformasional yang mampu menyesuaikan pesantren dengan perkembangan zaman. Ia mendorong inovasi pendidikan, memperluas kerja sama dengan berbagai pihak, serta memodernisasi sistem pembelajaran agar pesantren tetap relevan dalam menghadapi tantangan modern.[15]
Secara keseluruhan, peran kepemimpinan pesantren mencakup fungsi spiritual, edukatif, manajerial, sosial dan transformasional yang terintegrasi. Keberhasilan pesantren sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan kiai.[16] Pemimpin yang berwibawa dan visioner akan membawa pesantren maju dan berpengaruh, sedangkan kepemimpinan yang lemah dapat menghambat perkembangan pesantren. Karena itu, kepemimpinan pesantren menjadi faktor kunci dalam menjaga tradisi, meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkuat kontribusi pesantren bagi masyarakat.
D. Strategi Menghadapi Era Digital
- Meningkatkan Literasi Digital
Untuk menghadapi era digital, setiap orang dan organisasi perlu memahami teknologi digital dan informasi dengan baik. Literasi digital berarti bisa menggunakan komputer, ponsel, media social dan menilai apakah informasi yang diterima benar atau hoaks.[17] Contoh: Santri yang mengikuti kelas online harus bisa menilai sumber informasi dari internet dan menggunakan aplikasi belajar daring dengan benar.
- Memanfaatkan Teknologi Secara Optimal
Teknologi digital dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien. Organisasi bisa menggunakan sistem manajemen berbasis awan, perdagangan elektronik atau digital marketing, sementara individu bisa memanfaatkan aplikasi belajar atau platform kolaborasi online.[18] Contoh: Sebuah pesantren membuat toko online untuk menjual buku pelajaran, sedangkan guru menggunakan Google Classroom untuk mengajar santri secara daring.
- Mengembangkan Keterampilan Baru
Era digital menuntut kemampuan baru, misalnya coding, analisis data, desain grafis atau kreativitas digital agar tetap relevan. Orang yang bisa menguasai keterampilan ini akan lebih mudah bersaing di dunia kerja atau mengelola organisasi dengan teknologi.[19] Contoh: Santri mempelajari desain grafis untuk membuat konten dakwah digital atau belajar coding untuk membuat aplikasi pendidikan pesantren.
E. Peluang Pesantren di Era Digital
- Transformasi Pendidikan Pesantren
Era digital memberikan peluang bagi pesantren untuk mentransformasikan sistem pendidikannya. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, pesantren dapat menyelenggarakan pembelajaran daring, kelas virtual dan penggunaan media digital dalam pengajaran kitab kuning maupun materi keagamaan lain.[20] Transformasi ini memungkinkan pesantren menjangkau santri yang lebih luas, termasuk dari luar daerah serta meningkatkan kualitas pendidikan berbasis digital.
- Pengembangan Konten Digital Keagamaan
Pesantren memiliki peluang untuk mengembangkan konten digital keagamaan, seperti video pembelajaran, podcast atau aplikasi mobile Islami. Konten ini dapat menjadi media dakwah, pendidikan dan promosi pesantren. Dengan konten digital, pesantren dapat memperluas jangkauan dakwah dan pendidikan serta menjawab kebutuhan generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi.[21]
- Peningkatan Jejaring dan Kolaborasi
Era digital memungkinkan pesantren membangun jejaring dan kolaborasi yang lebih luas, baik dengan institusi pendidikan lain, pemerintah, maupun organisasi internasional. Platform digital seperti media sosial, webinar dan forum online mempermudah pertukaran pengetahuan, pengalaman dan inovasi pendidikan.[22] Hal ini dapat meningkatkan reputasi pesantren sekaligus membuka peluang kerja sama yang strategis.
- Pemanfaatan Teknologi untuk Manajemen Pesantren
Digitalisasi juga memberikan peluang untuk meningkatkan manajemen pesantren, seperti sistem administrasi berbasis digital, keuangan online dan pengelolaan data santri. Pemanfaatan teknologi ini membuat pengelolaan pesantren lebih efisien, transparan dan akuntabel sehingga meningkatkan profesionalisme lembaga.[23]
KESIMPULAN
Globalisasi dan era digital membawa perubahan besar yang memberikan tantangan sekaligus peluang bagi pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua dan terpenting di Indonesia. Tantangan utama yang dihadapi pesantren meliputi derasnya arus budaya global yang sering bertentangan dengan nilai-nilai pesantren, masuknya budaya populer yang tidak terfilter, kesenjangan literasi digital, minimnya infrastruktur teknologi, serta rendahnya kompetensi digital di kalangan pengajar dan santri. Selain itu, persaingan dengan lembaga pendidikan modern yang menawarkan fasilitas dan metode pembelajaran berbasis teknologi semakin mendorong pesantren untuk melakukan adaptasi dan transformasi.
Dalam situasi tersebut, kepemimpinan pesantren terutama peran kiai menjadi faktor kunci dalam menentukan arah pembaruan. Kiai tidak hanya berperan sebagai figur spiritual dan pendidik, tetapi juga sebagai pemimpin manajerial, sosial dan transformasional yang mampu menggerakkan perubahan. Kepemimpinan yang visioner dan responsif terhadap perkembangan zaman mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi pesantren dan kebutuhan inovasi di era digital.
Meskipun menghadapi tantangan yang kompleks, era digital sekaligus membuka peluang besar bagi pesantren untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas jangkauan dakwah, mengembangkan konten keagamaan digital, memperkuat kerja sama, dan meningkatkan efisiensi manajemen melalui digitalisasi sistem administrasi. Dengan strategi yang tepat terutama peningkatan literasi digital, pemanfaatan teknologi informasi, dan pengembangan keterampilan baru pesantren dapat menjadi lembaga pendidikan Islam yang modern, adaptif, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai tradisi. Dengan demikian, sinergi antara pelestarian tradisi dan inovasi digital menjadi kunci utama bagi pesantren dalam memperkuat perannya di era global dan digital saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Dhofier, Z. (2011). Tradisi pesantren: Studi tentang pandangan hidup kyai. Jakarta: LP3ES. hlm. 80–95.
[2] Azra, A. (1999). Pendidikan Islam: Tradisi dan modernisasi menuju milenium baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. hlm. 120–135.
[3] Hamin, T. S. (2020). Literasi digital dalam pendidikan Islam. Yogyakarta: Deepublish. hlm. 25–50.
[4] Mastuhu. (1994). Dinamika sistem pendidikan pesantren. Jakarta: INIS. hlm. 60–75.
[5] Rohani, A. (2018). Pendidikan media dan literasi informasi. Bandung: Alfabeta. hlm. 40–65.
[6] Hamin, T. S. (2020). Literasi digital dalam pendidikan Islam. Yogyakarta: Deepublish. hlm. 25–50.
[7] Azra, A. (1999). Pendidikan Islam: Tradisi dan modernisasi menuju milenium baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. hlm. 120–135.
[8] Rohani, A. (2018). Pendidikan media dan literasi informasi. Bandung: Alfabeta. hlm. 40–65.
[9] Mastuhu. (1994). Dinamika sistem pendidikan pesantren. Jakarta: INIS. hlm. 60–75.
[10] Nurcholish Madjid. Bilik-bilik Pesantren. Jakarta: Paramadina, 1997.
[11] Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Logos, 1999.
[12] Fadli, M. Pendidikan Islam di Pesantren. Malang: UIN Press, 2016.
[13] Fattah, Nanang. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012.
[14] Wahid, Abdurrahman. Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute, 2006.
[15] Abdullah, Amin. Islamic Studies di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.
[16] Suyatno. Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung: Alfabeta, 2017.
[17] Rheingold, H. (2012). Net Smart: How to Thrive Online. hal. 12–18.
[18] Chaffey, D. (2019). Digital Business and E-commerce Management. hal. 32–37.
[19] World Economic Forum. (2020). Future of Jobs Report. hal. 22–27.
[20] Dhofier, Z. (2011). Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES. hal. 210–215.
[21] Wahid, A. (2001). Pesantren Sebagai Subkultur. Yogyakarta: LKiS. hal. 55–60.
[22] Woodward, M. (2012). Islam Jawa: Kesalehan dan Budaya. Yogyakarta: LKiS. hal. 98–102.
[23] Fattah, N. (2012). Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. hal. 123–128.

Leave a Reply