
Oleh: Nurul Imamah (Ikatan Mahasiswa Gedangan)
Dulu hubungan santri dengan kyai bukan hanya hubungan antara murid dan guru, melainkan hubungan antara pencari ilmu dan pembimbing spiritual. Setiap pertanyaan santri adalah pintu menuju perenungan, bukan sekadar pencarian jawaban instan. Namun kini ketika teknologi berkembang pesat, santri bisa mendapatkan jawaban dalam hitungan detik lewat ponsel pintar. ChatGPT dan media sosial telah menjadi kyai digital yang siap menjawab apa pun, kapan pun dan di manapun. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal itu merupakan langkah-langkah menuju kemunduran pendidikan, keberkahan bahkan dekadensi moral.
Menurut pandangan penulis, menggunakan ChatGPT sebagai sumber rujukan tunggal dalam menjawab problematika umat memiliki beberapa dampak negatif, antara lain adalah sebagaimana berikut:
- Menurunkan Kualitas Intelektual
Menggunakan ChatGPT dan tidak melakukan konsultasi kepada kyai dalam disiplin keilmuan akan menjadi faktor determinan terhadap turunnya kualitas intelektual para santri. Jawaban dari teknologi yang bersifat instan, tanpa proses berpikir mendalam dan tanpa diskusi menjadikan santri pasif dan tidak membuka ruang untuk berpikir kreatif dan kritis. Pembendaharaan ilmu yang dimiliki tidak dapat berkembang dengan baik.
Mereka tidak lagi bertanya mengapa dan bagaimana, melainkan hanya mencari apa jawabannya. Akibatnya, intelektualitas yang dulu tumbuh dari kerja keras dan kerja cerdas menuntut ilmu kini bergeser menjadi budaya konsumsi informasi yang dangkal. Fenomena ini menghadirkan perubahan pada cara santri memahami ilmu, dari kebiasaan berpikir mendalam melalui proses tafakkur dan tadabbur menjadi pola belajar cepat yang berorientasi pada hasil. Diperlukan langkah reorientasi pendidikan agar nilai-nilai keilmuan yang mendalam tetap terjaga di tengah kemajuan teknologi.
- Mengurangi Nilai Spiritual
Teknologi memang menawarkan kecepatan, kemudahan, dan keluasan akses ilmu. Namun, ada satu hal yang perlahan memudar: nilai spiritual dalam proses mencari ilmu. Saat santri tidak lagi sowan, menundukkan kepala di hadapan kiai, dan mendengar petuahnya dengan penuh adab, maka yang hilang bukan sekadar interaksi manusiawi, melainkan juga barakah ilmu.
Dalam tradisi pesantren, ilmu bukan hanya soal isi, tetapi juga cara menerimanya. Menyimak nasihat kiai bukan sekadar mencari jawaban, melainkan membangun hubungan batin antara murid dan guru, sebuah proses penyucian jiwa yang tidak bisa digantikan oleh layar digital. Kecanggihan teknologi mungkin mampu memahami salah satu hukum fikih tetapi ia tidak bisa menanamkan rasa tunduk, adab, dan ketulusan dalam menuntut ilmu. Karena itu, penting bagi pesantren untuk terus menjaga harmoni antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. Sebab di sanalah ruh pendidikan sejati bersemayam tempat ilmu tidak hanya dipahami oleh akal, tetapi juga dihayati oleh hati.
- Kehilangan Nilai Keteladanan
Ilmu dalam tradisi pesantren tidak hanya diajarkan, tetapi diteladankan. Kyai bukan sekadar pengajar, melainkan contoh nyata bagaimana ilmu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari cara berbicara, bersikap, hingga beribadah, semua menjadi pelajaran hidup bagi para santri. Namun, ketika santri lebih banyak belajar dari media digital, mereka kehilangan ruang keteladanan itu. Bahkan mengikis jati diri dari seorang santri, yang notabennya santri sebagai pembentukan akhlak dan karakter yang utuh.
Teknologi mampu menyajikan pengetahuan, tetapi tidak mampu menanamkan adab. Ia bisa memberi teori tentang ikhlas, tetapi tidak bisa memperlihatkan bagaimana ikhlas dijalani. Ia bisa menjelaskan tentang sabar, tetapi tidak mampu menampilkan wajah sabar dalam kehidupan nyata. Di sinilah bahaya kehilangan teladan. Santri mungkin paham banyak teori keislaman, tetapi tidak memiliki panduan moral dan perilaku yang hidup. Mereka tahu apa itu zuhud, tetapi tidak pernah melihatnya dipraktikkan. Mereka hafal dalil tentang tawadhu, tetapi lupa bagaimana cara merendahkan hati.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa teknologi bukan musuh pesantren. Ia adalah alat yang bisa digunakan untuk memperluas ilmu dan dakwah jika dikelola dengan bijak. Namun, yang perlu disadari adalah bahwa tidak semua hal bisa digantikan oleh mesin. Ada dimensi ruhani, adab, dan keberkahan yang hanya bisa diperoleh melalui hubungan langsung antara santri dan kyai.
Maka, jalan tengah yang bijak adalah mengembalikan teknologi pada posisinya sebagai pelengkap, bukan pengganti. Santri boleh mencari informasi di dunia digital, tetapi tetap harus berguru pada kyai untuk mendapatkan pemahaman dan keberkahan. Dengan begitu, tradisi keilmuan pesantren tetap hidup, sambil tetap mengikuti arus kemajuan zaman. Dan juga santri masa kini harus menjadi garda terdepan dalam mengusai setiap perkembangan tanpa mengilangkan keimanan yang sudah melekat dalam jatidirinya. Dengan begitu santri tetap berada pada tempatnya dalam perubahan dan tantangan kehidupan selanjutnya.

Leave a Reply