
oleh: Khoirul Waro (Ikatan Mahasiswa Gedangan)
Abstrak
Kepemimpinan merupakan aspek fundamental dalam organisasi, karena menentukan arah, dinamika, dan pencapaian tujuan bersama. Pemimpin berperan penting dalam membentuk kinerja, arah, dan budaya, suatu organisasi. Seorang pemimpin juga tidak hanya sebagai pengambil keputusan, tetapi juga sebagai motivator dan penggerak anggota organisasi. Tujuan dari artikel ini sebagai penyelidikan tipologi kepemimpinan dan dinamikanya di organisasi serta kecocokan tipologi yang relevan dengan lembaga pendidikan. Artikel ini melibatkan metode studi literatur yang berguna untuk mendalami dan menyelidiki kerelvanan tipologi kepemimpinan dalam lembaga pendidikan. Sorotannya adalah pemilihan gaya kepemimpinan dan dampaknya pada dinamika organisasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa ada beberapa tipologi kepemimpinan yang relevan digunakan di antaranya yaitu kepemimpinan otoriter, kepemimpinan demokratis, kepemimpinan karismatik dan kepemimpinan kolegial.
Kata kunci: Tipologi, Kepemimpinan, Otoriter, Demokratis, Karismatik, Kolegial
PENDAHULUAN
Kepemimpinan merupakan aspek fundamental dalam organisasi, karena menentukan arah, dinamika, dan pencapaian tujuan bersama. Seorang pemimpin berperan tidak hanya sebagai pengambil keputusan, tetapi juga sebagai motivator dan penggerak anggota organisasi. Gaya kepemimpinan dapat berbeda-beda tergantung pada kepribadian pemimpin, budaya organisasi, serta situasi yang dihadapi.
Pemimpin berperan penting dalam membentuk kinerja, arah, dan budaya, suatu organisasi.[1] Kepemimpinan menjadi poin penting berhasilnya suatu organisasi. Kepemimpinan biasanya menjadi kegiatan mempengaruhi anggota dalam suatu organisasi untuk mengarahkan sesuai tujuan organisasi. Mempengaruhi yang dimaksud bertujuan untuk perbaikan organisasi dan budayanya serta memotivasi perilaku anggota guna mencapai tujuan. Dengan adanya kepemimpinan dalam perilaku pemimpin, maka mewujudkan sasaran dari organisasi berkemungkinan besar akan tercapai bila dipimpin dengan arahan yang tepat. Oleh karena itu, kepemimpinan sekolah adalah faktor penting yang membantu sekolah mencapai visi, misi, dan tujuannya melalui perencanaan yang baik, sehingga sekolah atau lembaga pendidikan efektif tercipta.
Gaya kepemimpinan menjadi poin keberhasilan organisasi dalam mengelola sumber daya manusia. Gaya kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai metode kepemimpinan dalam memengaruhi pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku organisasi.[2] Gaya kepemimpinan mempengaruhi kinerja anggota, yang mencerminkan kesungguhan dan kemampuan mereka menyelesaikan tugas.[3] Gaya kepemimpinan tersebut dipelajari dalam Tipologi Kepemimpinan, yang mana ilmu ini menjadi klasifikasi gaya kepemimpinan yang tepat karena tipologi menjadi klasifikasi inti dalam sebuah kepemimpinan adalah pemimpin. Maka karena itu, pada artikel ini penulis akan menyajikan dan menjelaskan konsep dan hal-hal yang terkait tipologi kepemimpinan beserta pencarian tipologi kepemimpinan yang cocok dalam perilaku organisasi. Dalam konteks manajemen modern, dikenal beberapa tipologi kepemimpinan yang umum digunakan, yaitu kepemimpinan otoriter, demokratis, karismatik, dan kolegial.
METODE PENELIATIAN
Penggunaan metode studi literatur dalam penelitian ini dilaksanakan seperti mencari lalu membaca buku, artikel, dan sumber lainnya yang relevan sehingga data yang diperlukan dapat diperoleh.[4] Menurut Danandjaja dalam studi literatur dapat didefinisikan sebagai teknik penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan referensi atau rujukan yang sistematis secara ilmiah yang berhubungan dengan tujuan penelitian seperti buku, berita, dokumen, artikel, dan lainnya.[5] Ciri utama studi pustaka yaitu, 1) peneliti bertantangan secara langsung dengan teks atau data angka, 2) data pustaka bersifat sudah siap dipakai, 3) data pustaka pada dasarnya adalah sumber sekunder, 4) kondisi pada data pustaka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.[6]
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tipologi Kepemimpinan
Tipologi sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu typos yang berarti gambaran, impresi, bentuk, dan jenis sesuatu. Sedangkan logy juga berasal dari bahasa Yunani yaitu ilmu. Sehingga tipologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang impresi, gambaran, bentuk, jenis atau karakter pada objek.[7] Tipologi juga bisa disebut sebagai ilmu yang mempelajari terkait pengelompokan berdasarkan tipe atau jenis.[8] Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) Tipologi menjadi bagian dari sifat masing masing manusia. Bila dikaitkan dengan kepemimpinan, maka tipologi kepemimpinan merupakan ilmu yang mempelajari jenis-jenis atau tipe-tipe kepemimpinan dalam suatu lembaga atau organisasi.[9] Tipologi kepemimpinan sebenarnya lebih dari sekedar sistem pengelompokan atau klasifikasi sederhana tentang kepemimpinan, karena secara konseptual tipologi menjadi kumpulan tipe ideal yang diturunkan dan saling terkait, yang masing-masing membentuk kombinasi unik dari atribut-atribut itu akan menentukan hasil kepemimpinan yang relevan. Daripada memberikan aturan keputusan tersendiri untuk klasifikasi, tipologi menilai bagaimana tingkat kesamaan kepemimpinan dengan tipe ideal berhubungan dengan kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga.
Tipologi kepemimpinan juga menjadi alat yang penting untuk memahami gaya kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah atau lembaga pendidikan. Ada berbagai alasan mengapa tipologi kepemimpinan berperan penting dalam gaya kepemimpinan organisasi termasuk lembaga pendidikan:[10]
- Tipologi kepemimpinan membantu memahami berbagai gaya kepemimpinan yang ada dan memilih atau mengembangkan pemimpin yang paling cocok dengan kebutuhan spesifik lembaga tersebut.
- Organisasi atau lembaga pendidikan dapat merencanakan program kegiatan pengembangan kepemimpinan yang lebih berpotensial untuk berbagai situasi dan lebih terarah dalam menyelesaikan tantangan yang dihadapi.
- Bila dipelajari secara mendalam, maka penyesuaian gaya kepemimpinan mereka dapat meningkat kan efektivitas dari kinerja organisasi secara keseluruhan.
- Pemahaman tipologi kepemimpinan dapat mendorong budaya kolaboratif dan menciptakan lingkungan yang positif serta berdampak pada peningkatan kepuasan kerja.
- Pemimpin yang mendalami tipologi kepemimpinan berkemungkinan besar membuat keputusan yang jauh lebih baik daripada pemimpin yang belum memahami tipologi kepemimpinan. Pengambilan keputusan yang dimaksud lebih inklusif, adaptif dan responsif terhadap organisasi atau lembaga pendidikan.
- Khusus untuk lembaga pendidikan, bila guru yang memahami dan menerapkan tipologi kepemimpinan dengan tepat, maka kebutuhan dan perhatian siswa terhadap pembelajaran dapat meningkat lebih spesifiknya kepuasan dan kinerja akademik siswa
Tipologi kepemimpinan adalah klasifikasi berbagai gaya atau tipe kepemimpinan bedasarkan karakteristik perilaku, pendekatan dan cara seorang pemimpin mempengaruhi dan mengarahkan bawahannya. Pemimpin secara sederhana mengacu pada cara seorang pemimpin mempengaruhi anggota kelompoknya. Gaya kepemimpinan, menurut konsep Thoha,[11] yang dikutip oleh Eko Maulana Ali adalah cara seseorang berperilaku dengan cara tertentu saat mencoba mempengaruhi perilaku orang lain.[12] Kedudukannya sangat penting dalam upaya menyelaraskan persepsi di antara orang yang akan mempengaruhi dan orang yang perilakunya dipengaruhi. Setelah memahami ini, menjadi logis jika para ilmuwan seringkali mengukur kesuksesan seorang pemimpin dengan mempelajari cara dia memimpin.
Kepemimpinan adalah interaksi antara yang dipimpin dan pemimpin untuk mengubah dan memberdayakan perilaku yang dipimpin sehingga mereka mampu memimpin diri mereka sendiri untuk mencapai tujuan organisasi dan pribadi. Dengan keterampilan khusus yang tepat untuk situasi tertentu, kepemimpinan adalah jenis dominasi yang didasarkan pada kemampuan individu untuk mendorong atau mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu berdasarkan persetujuan kelompoknya atau penerimaan mereka. Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi orang-orang untuk mencapai tujuan organisasi. Ini melibatkan kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, mendorong, mengajak, mengarahkan, menasihati, membimbing, menunjukkan, mendikte, melarang dan membina manusia agar bekerja mencapai tujuan secara efektif dan efisien.[13]
Sikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti latar belakang keluarga, tingkat pendidikan, lingkungan sosial, kepentingan pribadi dan organisasi, serta kebiasaan sehari-hari. Faktor-faktor ini membentuk karakter dan sifat yang tercermin dalam sikap dan perilaku mereka. Demikian juga, ketika seseorang memasuki lingkungan organisasi dan menjadi seorang pemimpin, sikap dan perilaku mereka akan tercermin dalam peran tersebut. Sikap dan perilaku mereka akan berbeda satu sama lain.[14]
Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan otoriter (authoritarian leadership) adalah gaya kepemimpinan yang menempatkan kekuasaan secara sentral pada pemimpin. Semua keputusan ditentukan oleh pemimpin tanpa melibatkan bawahan dalam prosesnya. Pemimpin tipe ini menuntut kepatuhan mutlak dari anggota organisasi dan menerapkan kontrol yang ketat terhadap bawahan.[15]
Pemimpin otoriter efektif dalam situasi darurat atau organisasi yang membutuhkan kedisiplinan tinggi, seperti militer. Namun, gaya ini juga dapat menurunkan motivasi dan kreativitas anggota karena kurangnya ruang untuk berpendapat.
Kelebihan:
- Keputusan diambil cepat dan tegas.
- Disiplin dan keteraturan tinggi.
Kelemahan:
- Kurang menghargai partisipasi anggota.
- Dapat menimbulkan ketegangan dan rasa takut.
Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis (democratic leadership) menekankan partisipasi aktif dari anggota dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin berperan sebagai fasilitator yang membuka ruang komunikasi dua arah, memberi kesempatan kepada bawahan untuk menyampaikan ide dan pendapatnya.[16]
Tipe kepemimpinan ini sangat efektif dalam membangun rasa tanggung jawab bersama, meningkatkan kreativitas dan memperkuat rasa memiliki terhadap organisasi.
Kelebihan:
- Menumbuhkan kerja sama dan motivasi.
- Keputusan lebih matang karena mempertimbangkan banyak masukan.
Kelemahan:
- Pengambilan keputusan bisa lambat.
- Tidak selalu cocok dalam kondisi krisis.
- Kepemimpinan Karismatik
Kepemimpinan karismatik (charismatic leadership) didasarkan pada daya tarik pribadi seorang pemimpin yang mampu menginspirasi dan memotivasi pengikutnya. Pemimpin karismatik biasanya memiliki visi yang kuat, kemampuan komunikasi yang luar biasa serta kepribadian yang menawan.[17]
Kepemimpinan karismatik sering kali muncul dalam situasi perubahan besar atau krisis, ketika organisasi membutuhkan figur yang mampu memberikan arah dan harapan baru.
Kelebihan:
- Membangkitkan semangat dan loyalitas tinggi.
- Mendorong perubahan besar dalam organisasi.
Kelemahan:
- Ketergantungan tinggi pada figur pemimpin.
- Bila pemimpin kehilangan karisma, organisasi dapat kehilangan arah.
Kepemimpinan Kolegial
Kepemimpinan kolegial (collegial leadership) adalah gaya kepemimpinan yang mengedepankan kerja sama sejajar antar anggota organisasi. Dalam sistem ini, keputusan diambil melalui musyawarah, diskusi dan kesepakatan bersama. Setiap anggota memiliki hak suara yang sama dan pemimpin berperan sebagai koordinator, bukan pengendali tunggal.[18]
Kepemimpinan kolegial banyak diterapkan di lingkungan akademik atau organisasi profesional yang menjunjung tinggi kesetaraan.
Kelebihan:
- Menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama.
- Mendorong komunikasi terbuka dan solidaritas.
Kelemahan:
- Pengambilan keputusan bisa lambat.
- konflik meningkat bila tidak ada kesepakatan.
Tipologi Kepemimpinan Dalam Organisasi
Anggota organisasi yang dipekerjakan perlu dilatih serta dididik oleh organisasi tersebut, selain itu mereka juga diberikan perlindungan dan informasi dari organisasi. Hal ini disebut dengan perilaku organisasi. Perilaku organisasi ini dapat didefinisikan sebagai perilaku orang-orang dalam organisasi.[19] Adapun prosesnya yang meliputi kepemimpinan, komunikasi, kekuasaan, komunikasi dan pengambilan keputusan. Satu hal yang dipertimbangkan dalam rancangan struktur organisasi adalah kegiatan dengan cara yang efisien dan efektif.[20] Dari berbagai literatur ahli terhadap perilaku organisasi dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat individu mempengaruhi konteks kepemimpinan. Menurut McShane, sifat-sifat tersebut berupa motivasi, kecerdasan emosional, integritas, jiwa pemimpin, kepercayaan diri, dorongan dan kecerdasan dalam pengetahuan bisnis. Robbins menambahkan berbagai sifat seperti ekstroversi serta kejujuran yang menjadikan pemimpin lebih baik. Karena sifat-sifat inilah dibentuknya tipologi kepemimpinan yang relevan dengan perilaku organisasi.[21]
Model Tipologi kepemimpinan
Tipologi kepemimpinan menjadi kerangka untuk memahami berbagai jenis atau gaya kepemimpinan yang berbeda. Beberapa teori dan model telah dikembangkan untuk mengkategorikan tipe kepemimpinan berdasarkan berbagai karakteristik, perilaku dan situasi. Berikut adalah beberapa tipologi kepemimpinan yang terkenal:[22]
Tipologi Kepemimpinan Menurut Max Weber
Max Weber, seorang sosiolog Jerman, mengembangkan teori tentang otoritas dan kepemimpinan yang mengidentifikasi tiga tipe dasar otoritas yang dapat membentuk dasar tipologi kepemimpinan. Berikut adalah penjelasan tentang tiga tipe kepemimpinan menurut Max Weber:[23]
- Kepemimpinan Karismatik: Kepemimpinan karismatik didasarkan pada daya tarik pribadi dan kharisma seorang pemimpin. Pemimpin dengan tipe ini memiliki kemampuan untuk menginspirasi dan memotivasi pengikutnya melalui visi, ide dan kepribadian yang luar biasa. Pengikut mempercayai dan mengikuti pemimpin ini karena mereka merasa ada sesuatu yang istimewa dan luar biasa dalam diri pemimpin tersebut. Karakteristiknya seperti pemimpin memiliki kharismatik yang kuat, mampu menginspirasi dan memotivasi pengikut, biasanya muncul dalam situasi krisis atau perubahan signifikan dan pengikut menunjukkan loyalitas dan kesetiaan yang tinggi.
- Kepemimpinan Tradisional: Kepemimpinan tradisional didasarkan pada kebiasaan, adat dan tradisi yang sudah ada. Pemimpin memperoleh otoritas mereka melalui warisan atau norma norma budaya yang telah berlangsung lama. Dalam tipe ini, legitimasi pemimpin berasal dari keyakinan bahwa tradisi yang telah mapan harus dihormati dan diikuti. Karakteristiknya seperti kekuasaan diwariskan atau diturunkan berdasarkan tradisi, struktur otoritas seringkali bersifat hierarkis dan stabil, pengikut menghormati pemimpin karena kepercayaan pada tradisi dan adat.
- Kepemimpinan Legal-Rasional: Kepemimpinan legal-rasional didasarkan pada sistem hukum dan aturan yang rasional dan impersonal. Pemimpin memperoleh otoritas mereka melalui prosedur formal dan aturan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan tipe ini umumnya ditemukan dalam organisasi modern di mana kekuasaan diberikan berdasarkan posisi formal dan kualifikasi profesional. Karakteristiknya seperti otoritas didasarkan pada aturan, hukum dan prosedur formal. Kekuasaan diberikan kepada posisi, bukan individu, struktur organisasi bersifat birokratis dan fungsional serta pemimpin dipilih atau diangkat berdasarkan kualifikasi dan kemampuan.
Tipologi Kepemimpinan Menurut Kurt Lewin
Kurt Lewin, seorang psikolog sosial, mengidentifikasi tiga gaya kepemimpinan utama:[24]
- Kepemimpinan Otokratis: Pemimpin membuat keputusan tanpa konsultasi atau input dari anggota tim. Gaya ini efektif dalam situasi yang membutuhkan keputusan cepat tetapi dapat menyebabkan ketidakpuasan di antara anggota tim jika digunakan secara berlebihan.
- Kepemimpinan Demokratis: Pemimpin yang mana anggotanya ikut dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Ini dapat meningkatkan motivasi dan kreativitas tim, namun bisa memperlambat proses pengambilan keputusan.
- Kepemimpinan Laissez-Faire: Pemimpin yang memberikan anggotanya kebebasan untuk membuat keputusan sendiri. Gaya ini bisa efektif dengan tim yang sangat terampil dan termotivasi, tetapi bisa menyebabkan kurangnya arah dan koordinasi.
Tipologi Kepemimpinan Teori Jalur-Tujuan Robert (Path-Goal Theory)
Teori ini dikembangkan oleh Robert House dan menyarankan bahwa pemimpin harus memilih gaya kepemimpinan yang sesuai berdasarkan situasi dan kebutuhan anggota tim untuk mencapai tujuan. Empat gaya kepemimpinan utama dalam teori ini adalah:[25]
- Kepemimpinan Direktif: Memberikan arahan yang jelas dan spesifik.
- Kepemimpinan Supportif: Menunjukkan perhatian dan dukungan terhadap kesejahteraan anggota tim.
- Kepemimpinan Partisipatif: Melibatkan anggota tim dalam proses pengambilan keputusan.
- Kepemimpinan Berorientasi Prestasi: Menetapkan tujuan yang menantang dan menunjukkan keyakinan pada kemampuan anggota tim untuk mencapainya.
Tipologi Kepemimpinan Model Kontingensi Fiedler
Model kontingensi yang dikembangkan oleh Fred Fiedler menekankan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada situasi. Tiga faktor utama yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan adalah:[26]
- Hubungan Pemimpin-Anggota: Hubungan pemimpin yang dapat mempengaruhi kekuasaanya serta apakah pemimpin ini bisa diterima baik oleh anggotanya atau tidak. Jika tidak, maka pemimpin tersebut harus menyandarkan diri pada perintah untuk menyelesaikan tugasnya.
- Struktur Tugas: Instruksi yang tersetruktur dalam penyelesaian tugas yang telah tersedia, sehingga dalam situasi ini pemimpin mempunyai wewenang yang besar atas informasi tugas tugas yang harus dilaksanakan anggotanya.
- Kekuatan Posisi: Variabel yang mengkaitkan posisi pemimpin dalam mempengaruhi anggota seperti mempunyai jabatan sebagai menteri dan ketua parpol, yang mana jabatan ini dapat memudahkan tugas pemimpin dalam mempengaruhi bawahan, sedangkan kekuatan posisi yang kecil, cenderung lebih sukar.
Tipologi Kepemimpinan Likert
Likert dalam menyatakan bahwa dalam model kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam empat sistem, yaitu:[27]
- Sistem Otoriter: Sistem kepemimpinan ini mengendalikan semua keputusan baik itu pekerjaan maupun instruksi kepada anggota untuk menjalankan tugas. Pemimpin juga menentukan standar pekerjaan dan menerapkan hukuman.
- Sistem Otoriter Bijak: Berbeda dengan otoriter sebelumnya, fleksibilitas kepimpinan dalam penentuan standar juga dapat dipengaruhi oleh anggotanya. Sistem ini juga sering memberikan pujian dan bahkan hadiah bila anggotanya mengerjakan tugasnya dengan baik.
- Sistem Konsultatif: Sistem yang dicirikan dengan pola komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan. Kepemimpinan ini juga tergambar pada pola penetapan target atau sasaran organisasi yang cenderung bersifat konsultatif dan memungkinkan diberikannya wewenang pada bawahan pada tingkatan tertentu.
- Sistem Partisipatif: Sistem kepemimpinan yang lebih menekankan pada kerja kelompok dan biasanya menunjukkan keterbukaan pada anggotanya. Sehingga dalam proses pengambilan keputusan anggotanya juga dilibatkan.
Tipe-Tipe Kepemimpinan Secara Umum
Terdapat berbagai tipe kepemimpinan yang mencerminkan gaya dan pendekatan yang berbeda. Beberapa di antaranya meliputi:[28]
- Kepemimpinan Otoriter: Kepemimpinan yang identik dengan pemaksaan. Meskipun begitu ada pula keuntungan dalam kepemimpinan ini, yaitu menjaga kendali organisasinya, namun partisipasi dan keterlibatan anggotanya berkurang.
- Kepemimpinan Pseudo-Demokratis: Kepmimpinan yang menampilkan ciri-ciri demokratis namun bertindak dengan perhitungan untuk mencapai keinginannya.
- Kepemimpinan Bebas: Kepemimpinan yang memberikan anggotanya kebebasan untuk mengambil inisiatif.
- Kepemimpinan Demokratis: Kepemimpinan yang mendorong kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dan berkontribusi secara aktif.
KESIMPULAN
Pemimpin yang efektif adalah mereka yang mampu menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan konteks, kebutuhan organisasi, dan karakter anggota agar tujuan bersama dapat tercapai secara optimal. Keempat tipologi kepemimpinan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan yang ideal untuk semua situasi. Kepemimpinan otoriter efektif untuk situasi yang membutuhkan kendali ketat, kepemimpinan demokratis cocok untuk lingkungan yang partisipatif, kepemimpinan karismatik penting dalam masa perubahan, sedangkan kepemimpinan kolegial sesuai untuk organisasi yang menekankan kolaborasi.
Daftar Pustaka
[1] Suryana, C., & Iskandar, S. (2022). Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Menerapkan Konsep Merdeka Belajar di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6(4), 7317–7326.
[2] Tsany, M., Nugroho, A., & Putra, R. (2022). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Karyawan pada Perusahaan XYZ. Jurnal Manajemen dan Organisasi, 7(2), 45–53.
[3] Muntatsiroh, L., & Hendriani, R. (2024). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan. Jurnal Manajemen dan Bisnis, 8(1), 12–22.
[4] Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Ed. revisi). Jakarta: Rineka Cipta.
[5] Noviani, R., & Sa’adah, N. (2023). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Studi Literatur. Jurnal Ilmu Pendidikan, 10(2), 45–55.
[6] Zed, S. (2014). Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Rajawali Pers.
[7]Sutanto, A. (2022). Berpikir Ulang Tentang Tipologi. Universitas Tarumanagara.
[8] Suharjanto, G. (2013). Keterkaitan Tipologi dengan Fungsi dan Bentuk. Jurnal Komunikasi Teknik, 4(2), 975–982.
[9] Anti, R. (2022). Tipologi Kepemimpinan dalam Organisasi Modern. Jakarta: Prenadamedia Group.
[10] Northouse, P. G. (2018). Leadership: Theory and Practice (8th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
[11] Thoha, M. (1997). Psikologi Kepemimpinan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
[12] Sintani, A., Maulana Ali, E., & Rekan. (2022). Studi Kepemimpinan di Lembaga Pendidikan. Jurnal Pendidikan dan Manajemen, 5(1), 23–34.
[13] Sitorus, R. (2020). Kepemimpinan dan Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
[14] Sintani, A., Maulana Ali, E., & Rekan. (2022). Studi Kepemimpinan di Lembaga Pendidikan. Jurnal Pendidikan dan Manajemen, 5(1), 23–34.
[15] Kartono, K. (2008). Pengantar Ilmu Administrasi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
[16] Hasibuan, M. S. P. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
[17] Weber, M. (1947). The Theory of Social and Economic Organization. New York: Oxford University Press.
[18] Rivai, V., & Mulyadi, D. (2012). Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan dari Teori ke Praktik. Jakarta: Rajawali Pers.
[19] Ansor, M. (2017). Perilaku Organisasi: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rajawali Pers.
[20] Pohan, C. A. (2018). Manajemen Perpajakan. Edisi Revisi. Jakarta: Salemba Empat.
[21] Kurniawan, A. (2014). Tipologi Gaya Kepemimpinan yang Relevan dari Perilaku Organisasi. Jurnal Niara, 17(3), 53–61.
[22] Nurrohman, F. (2023). Tipologi Gaya Kepemimpinan Yang Relevan Dari Perilaku. Jurnal Niara, 17(3), 53-61.
[23] Weber, M. (1947). The Theory of Social and Economic Organization. New York: Oxford University Press.
[24] Daut, F. (2021). Psikologi Kepemimpinan: Teori dan Praktik. Jakarta: Prenadamedia Group.
[25] Northouse, P. G. (2018). Leadership: Theory and Practice (8th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.
[26] Mardia, R. (2022). Teori dan Praktik Kepemimpinan Kontingensi. Jakarta: Salemba Empat.
[27] Triwisudaningsih, T. (2020). Teori Kepemimpinan dan Implementasinya di Organisasi Modern. Yogyakarta: Deepublish.
[28] Napitupulu, R., Putra, D. H., & Shalahuddin, M. (2019). Tipe-tipe Kepemimpinan dalam Organisasi Kontemporer. Jurnal Manajemen dan Kepemimpinan, 6(2), 45–58.

Leave a Reply