
Oleh: Ainun Nafila (Ikatan Mahasiswa Gedangan)
Abstrak
Pendidikan di Indonesia cenderung terpecah menjadi komponen-komponen yang berjalan secara terpisah. Padahal tipe hasil belajar ada tiga, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Maka, pembelajaran kitab Ta’lim Al-Mutaallim mestinya tidak hanya dengan lisan tapi juga dengan pendekatan lain yang menjanjikan terhadap otimalisasi praktik moral. Dengan demikian dilakukan penelitian rekonstruksi sosio-moral berbasis kitab Ta’lim Al-Muta’allim di Pondok Pesantren Gedangan Daleman Kedungdung Sampang dengan metode penelitian kualitatif dan jenis penelitian field research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi sosio-moral tersebut dilakukan dengan tiga pendekatan, yaitu 1). Dengan pembelajaran yang holistik, yaitu persiapan, pengenalan materi, proses pembelajaran aktif, penerapan ilmu dan evaluasi dan refleksi 2). Dengan keteladanan dalam andhep ashor, abekteh dan ngormat. Merupakan budaya pesantren Madura yang bermakna pemberian contoh yang terpuji dalam rendah diri, berbakti dan menghormati orang lain 3). Dengan pembiasaan, yaitu aktivitas membiasakan anak dengan kegiatan yang bernilai baik terhadap pola pikir dan tingkah laku anak. Intensitas kegiatan yang begitu tinggi, sehingga mendarah daging kepada anak dan menjadi refleksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci: Rekonstruksi, Sosio-Moral, Ta’lim Al-Muta’allim, Pesantren
PENDAHULUAN
Pendidikan di Indonesia cenderung terpecah menjadi komponen-komponen yang berjalan secara terpisah. Padahal tipe hasil belajar menurut Bloom, ada tiga, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah-pisahkan, dan merupakan hubungan hirarki.[1] Karena sejatinya salah satu tujuan pendidikan adalah membentuk siswa menjadi individu yang berkarakter baik, berperan positif dalam keluarga, masyarakat, dan negara, serta memiliki sifat terdidik, demokratis, dan bertanggung jawab. Jadi, proses belajar yang ada di lembaga pendidikan tidak hanya untuk membangun individu yang unggul dibidang kognitif dan psikomotorik saja tapi juga harus mampu mencetak generasi bangsa yang bermoralitas.
Sebelum melangkah lebih jauh, perlu dibahas norma moral. Norma moral terbagi menjadi dua kategori, yaitu moral individu dan moral sosial. Moral sosial sendiri terbagi lagi menjadi dua, yakni moral sosial yang terkait langsung dengan kelompok atau negara tertentu, serta moral sosial yang bersifat universal. Pada dasarnya moral merupakan suatu nilai-nilai yang dijadikan pedoman dalam bertingkah laku. Dalam perkembangannya moral diartikan sebagai kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik dan susila.[2] Sedangkan sosio adalah ilmu yang mempelajari bidang sosial dan mengkaji bagaimana masyarakat terbentuk, bagaimana masyarakat beradaptasi dan bersosialisasi, serta bagaimana memecahkan berbagai permasalahan yang timbul dalam masyarakat.[3] Definisi tersebut menunjukkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas semua perbuatannya, baik yang baik maupun yang buruk. Tanggung jawab ini tidak hanya berlaku untuk dirinya sendiri, tetapi juga kepada orang lain atau kepada masyarakat secara umum. Dimana pada dasarnya nilai moral harus tertanam kokoh dalam hati nurani individu, sehingga saat diterapkan akan menjadi wujud kebaikan atau kesalehan sosial.
Namun, pada saat ini krisis moral yang tengah melanda generasi muda sering dijadikan alasan oleh sebagian pihak untuk melontarkan kritik tajam terhadap lembaga pendidikan. Hal ini cukup beralasan, karena lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam mencetak generasi bangsa secara utuh dengan akhlak yang mulia. Generasi muda yang berkarakter dan berakhlak mulia merupakan profil ideal yang diharapkan dari penerapan sistem pendidikan nasional. Hal ini sejalan dengan UU No. 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, demi mencerdaskan kehidupan bangsa.[4] Tujuannya adalah mewujudkan manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Di era globalisasi saat ini, terjadinya krisis sosio-moral di Indonesia merupakan salah satu fenomena yang semakin nyata akibat sering kali diabaikannya aspek afektif dalam institusi pendidikan. Aspek afektif, yang mencakup nilai-nilai moral, etika, empati, dan budi pekerti, seharusnya sama-sama menjadi faktor primer dalam dunia pendidikan. Contoh kongkrit yang memperlihatkan dampak dari krisis tersebut terjadi pada salah seorang guru yang dijembloskan ke penjara akibat memukul muridnya yang lalai terhadap tugas sekolah. Kasus seperti ini banyak beredar di media sosial dan memicu perdebatan luas di kalangan pendidikan, media sosial dan masyarakat. Empirisnya krisis sosio-moral juga tercermin pada Maret 2024 di wilayah Madura, ditemukan rombongan santriwati yang tengah duduk di samping para masyayikh dan orang-orang sepuh tanpa ada batasan antara guru dan murid atau antara yang muda dengan yang lebih tua, baik dalam segi perilaku maupun ucapan. Dan mirisnya, masih banyak orang tua yang memasukkan anaknya ke Pondok Pesantren namun tidak sepenuhnya memasrahkan putra-putrinya kepada pengurus lembaga tersebut. Sehingga mereka selalu ikut campur terhadap kebijakan-kebijakan yang ada di pesantren.
Hal ini menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan untuk lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral dan karakter positif pada generasi muda, baik yang bersifat individu maupun sosial. Krisis sosio-moral yang dialami termasuk di lingkungan pondok pesantren, mengindikasikan bahwa pendidikan agama dan moral di sekolah belum berhasil membentuk perilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter yang ada di pondok pesantren seharusnya menjadi solusi strategis dalam menghadapi krisis moral yang tengah melanda generasi muda, khususnya di kalangan pelajar. Oleh karena itu, integrasi nilai-nilai pendidikan karakter dalam institusi pendidikan menjadi sebuah keharusan.
Berbeda dengan Pondok Pesantren Gedangan, dimana lembaga tersebut sebagai salah satu institusi pendidikan Islam di Madura menawarkan pendekatan yang komprehensif untuk mengembangkan nilai-nilai karakter, melalui kajian kitab klasik karangan Syaikh Burhanuddin Al-Zarnuji. Sejak awal pendiriannya, pondok pesantren ini telah menunjukkan keunggulan khas dibandingkan lembaga pendidikan lainnya dengan penanaman nilai-nilai karakter yang terintegrasi secara mendalam dalam mata pelajaran agama yang memiliki proporsi signifikan dalam kurikulumnya. Oleh sebab itu, peneliti memandang pendidikan akhlak sebagai hal yang sangat penting dalam membentuk generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki dasar spiritual yang kuat, sehingga mampu melahirkan pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian dimana landasan berpikirnya berdasarkan filsafat postpositivisme, digunakan pada kondisi obyek alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, menggunakan triangulasi dalam penyumpulan data dan sumber data, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna bukan generalisasi. Sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian lapangan (field research), dimana peneliti mengamati dan berpartisipasi secara langsung di lokasi tempat data berada, baik dalam penelitian skala kecil maupun besar.
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
Istilah rekonstruksi mencakup berbagai bidang seperti politik, budaya, keamanan, dan kondisi alam pasca bencanana.[5] Namun secara umum, rekonstruksi berarti mengembalikan sesuatu ke kondisi semula. Kata ini berasal dari istilah “konstruksi,” yang berakar pada kata “konstruk,” yang berarti membangun, mengembangkan, atau menciptakan kembali. Menurut Snelbecker, istilah “konstruk” berasal dari “kons-truk,” yang sifat dan keberadaannya tidak dapat disimpulkan secara langsung melalui pengamatan empiris, sehingga hanya dapat dijelaskan melalui jaringan operasi konvergen.[6] Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, konstruksi berarti model atau tata letak suatu bangunan, seperti jembatan, rumah, dan lain sebagainya. Sedangkan definisi konstruksi menurut seorang ahli merupakan suatu kegiatan membangun sarana maupun prasarana. Sosio adalah ilmu yang mempelajari bidang sosial dan mengkaji bagaimana masyarakat terbentuk, bagaimana masyarakat beradaptasi dan bersosialisasi, serta bagaimana memecahkan berbagai permasalahan yang timbul dalam masyarakat.[7]
Moral adalah segala tingkah laku manusia yang mencakup sifat baik dan buruk, dari tingkah laku itu manusia yang menjadi ukurannya adalah tradisi yang berlaku di suatu masyarakat.[8] Pengertian moral ini secara tegas juga disampaikan oleh Imam Al-Ghazali, yaitu budi pekerti (moral/akhlak) ibarat dari perilaku yang sudah menetap dalam jiwa yang dapat melahirkan perbuatan yang mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. Apabila perilaku itu baik menurut akal maupun tuntunan agama, maka dinamakan perilaku yang baik. Apabila perbuatan yang dilakukan jelek maka budi pekerti tersebut dinamakan budi pekerti yang jelek.[9]
- Sosio-Moral Dalam Ta’lîm al-Muta’allim
Kitab Ta’lim al-Muta’allim terdiri dari beberapa materi, antara lain adalah secara khusus mengulas tentang pentingnya mengagungkan guru/pemilik ilmu. Bab ini memiliki nilai fundamental dalam dunia pendidikan Islam karena menekankan bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak hanya bergantung pada kecerdasan semata, tetapi juga pada sikap ta’dzim, tawaddu’ dan khidmat terhadap para guru/pemilik ilmu. Menurut Syaikh al-Zarnuji, ahli ilmu terutama ahli fiqih, memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang ahli ibadah. Oleh sebab itu, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menghormati para ulama dan guru. Dalam kitab Ta’lîm al-Muta’allim, yang membahas tentang etika dalam menuntut ilmu, Syaikh al-Zarnuji secara khusus menjelaskan penghormatan terhadap guru dalam pasal keempat yang berisi ajaran tentang memuliakan ilmu dan ahli ilmu.
Sosio moral dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim antara lain adalah sebagaimana betikut:
- Memberikan sesuatu yang bermanfaat, baik berupa harta maupun hal lainnya, meskipun dalam jumlah sedikit.
- Tidak berjalan lebih cepat dari guru saat berjalan bersamanya.
- Tidak duduk di tempat yang biasanya digunakan oleh guru.
- Tidak berbicara lebih dulu kepada guru kecuali telah mendapatkan izin.
- Tidak terlalu banyak berbicara di hadapan guru.
- Tidak mengajukan pertanyaan ketika guru sedang merasa lelah atau bosan.
- Menghormati waktu guru dan tidak mengetuk pintu atau kamarnya, melainkan menunggu hingga beliau keluar.
- Menghindari hal-hal yang dapat membuat guru marah serta menjalankan perintah baik darinya.
- Menghormati anak-anak dan keluarga guru serta orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengannya.
Syaikh al-Zarnuji memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada seorang guru, ia harus dihormati dan dimuliakan oleh muridnya. Guru memiliki peran layaknya orang tua dalam kehidupan seorang murid, sebagaimana pernyataan Sayyidina Ali yang dikutip oleh al-Zarnuji dalam kitab Ta’lîm al-Muta’allim:
أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق
Artinya: “Saya menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.”
- Rekonstruksi Sosio-Moral Berbasis Kitab Ta’lim al-Muta’allim di Pondok Pesantren Gedangan
Dalam upaya merekonstruksi nilai-nilai sosia-moral berdasarkan kitab Ta’lim al-Muta’allim di Pondok Pesantren Gedangan, terdapat sejumlah tahapan sebagaimana berikut:
- Pembelajaran Ta’lim al-Muta’allim
Pembelajaran Ta’lim al-Muta’alim di madrasah mengikuti suatu proses yang bertujuan untuk membentuk siswa tidak hanya menjadi cerdas dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan bisa mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Tahapan pembelajaran Ta’lîm al-Muta’allim dibagi menjadi beberapa fase yang saling berkaitan dan membentuk pembelajaran yang holistik, yaitu persiapan, pengenalan materi, proses pembelajaran aktif, penerapan ilmu dan evaluasi dan refleksi.
- Keteladanan
Di luar pembelajaran, proses rekonstruksi sosio-moral berbasis kitab Ta’lim al-Muta’alim juga melalui keteladanan dari para masyayikh dan guru Pondok Pesantren Gedangan. Materi kitab tersebut tidak hanya ditansmisikan melalui lisan tapi juga melalui tindakan, yaitu:
- Keteladanan Dalam Andhep Ashor
Keteladanan dalam andhep ashor adalah kultur budaya pesantren Madura yang bermakna contoh baik dalam rendah diri yang dibuktikan dengan beberapa tindakan nyata. Antara lain adalah: Pertama, tidak duduk sebelum yang lebih tua duduk. KH. Zainal Abidin sebagai pengasuh Pondok Pesantren Gedangan dikenal sebagai figur yang konsisten dalam mempraktikkan nilai-nilai andhep ashor. Salah satu bentuk konkret keteladanan kiai adalah kebiasaan tidak duduk sebelum orang yang lebih tua duduk. Pemandangan yang indah ini banyak disaksikan ketika beberapa tokoh sepuh hadir ke acara di masyarakat, maka kiai tidak langsung duduk mendahului yang lain. Kiai tetap dalam posisi berdiri dan mulai duduk perlahan ketika tokoh sepuh lainnya duduk. Tidak hanya kepada sesama tokoh, kiai juga tawadhu’ kepada masyarakat umum. Suatu ketika kiai berhenti di sebuah masjid pada saat perjalanan ke Surabaya kemudian disapa oleh kakek tua yang sedang menjual sapu lidi. Kiai memberikan dia air dan mempersilahkan kakek tua itu untuk duduk, namun karena si kakek tidak mau duduk maka Kiai pun juga tidak duduk.
Kedua, menjaga etika berjalan dengan mempersilahkan kiai yang lebih sepuh untuk berada di baris terdepan, baik dalam konteks kegiatan formal maupun nonformal. Sebagaimana ungkapan Lora Rudi, “Saya sangat salut kepada Kiai Pondok Pesantren Gedangan karena betul-betul menjaga etika ketika berjalan kaki. Ketika beberapa Kiai di Pondok Pesantren Gedangan itu berjalan bersama terkhusus ketika menghadiri undangan di hajatan warga. Setiap saya melihat, pasti yang lebih tua itu yang posisinya lebih di depan. Walaupun secara garis keturunan dia tercatat sebagai menantu”. Ketiga, melepas atribut kebesaran di depan guru-gurunya. Gelar akademik yang prestisius seperti Doktor dan Magister melebihi kiai-kiainya tidak membuat ustadz-ustadz di pesantren ini congkak dan besar kepala. Mereka menunjukkan sosio moral yang sangat indah di hadapan kiai-kianya dengan rendah diri, sehingga tidak merasa berat hati untuk diperlakukan sama dengan santri-santri yang lain.
- Keteladanan Dalam Abekteh
Keteladanan dalam abekteh adalah budaya pesantren Madura yang bermakna contoh baik dari para kiai dan ustadz dalam mengabdi kepada guru-gurunya. Antara lain adalah: Pertama, abekteh kepada masyayikh dengan menjadi tenaga pendidik dan kependidikan secara sukarela, baik dalam kegiatan formal maupun nonformal, begitu juga dalam ekstrakurikuler dan intrakurikuler, sehingga tidak hanya di pagi hari dalam kegiatan madrasiyah tapi juga siang dan malam hari dalam kegiatan ma’hadiyah para ustadz mengabdikan diri di lembaga tersebut. Tidak hanya yang masih muda dan belum menikah tapi juga mereka yang berstatus menikah.
Kedua, abekteh kepada kiai dengan berkontribusi dalam pembangunan fasilitas pesantren. Mereka selalu siap dan sigap memenuhi panggilan untuk ikut serta membantu Pondok Pesantren Gedangan dengan segala bentuk pekerjaan. Maka tidak jarang mereka yang berstatus sebagai tenaga pendidika dan kependidikan juga berperan sebagai pendamping pekerja tukang bangunan, asisten divisi sarana dan prasarana pesantren dan berbagai pengabdian yang bersifat pekerjaan keras.
- Keteladanan Dalam Ngormat
Keteladanan dalam ngormat adalah budaya pesantren Madura yang bermakna contoh baik dalam menghormati para kiainya. Antara lain adalah: Pertama, para kiai Pondok Pesantren Gedangan dengan ragam kesibukannya istikamah mengikuti kajian alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Sidogiri, Pondok Pesantren Darut Tauhid Injelan Sampang dan yang lain sebagai bentuk hormat kepada para kiai-kiainya. Kedua, kiai dan ustadz tidak menentukan pilihan politik sebelum kiai-kiainya menginformasikan kandidat yang dinilai lebih layak.
Keteladanan merupakan hal yang sangat urgen dalam mengkonstruksi sosio moral. Memberi contoh dalam beretika menjadi kekuatan tersendiri untuk mendapat legitimasi yang tinggi dari santri untuk ditaati seluruh ketentuan dan aturan dalam bermoral. Hujjah al-Islâm Imam Ghazali menjelaskan bahwa bahasa tindakan lebih fasih dari pada bahasa ucapan. Karakter manusia lebih cenderung membantu orang lain berbuat dari pada diikuti dengan kata-kata. [10] Sejalan dengan konsep Islam bahwa aturan di atas kertas tidak akan terwujud dalam bentuk action dan perbutan jika disampaikan orang-orang yang tidak mampu memulai dan menjalani. Tamtsilnya, bagaimana mungkin teknik yang gagal dalam membangun rumah akan sukses di tangan orang lain dengan teknik yang sama.
Kata al-Haddảd al-Hadramî:
إذا لَمْ يَنْتَفِعِ اْلعَالمُ بِعِلْمِهِ في نَفْسِهِ فَكَيْفَ بِهِ غَيْرُهُ؟
Artinya: Kalau ilmunya orang berilmu itu sudah tidak bermanfaat kepada dirinya, bagaimana mungkin bisa bermanfaaat kepada orang lain?. [11]
- Pembiasaan
Proses rekonstruksi sosio-moral Pondok Pesantren Gedangan Daleman Kedungdung Sampang juga melalui pembiasaan yang ditanamkan kepada para santri, baik dari aspek andhep ashor, abekteh dan ngormat, antara lain adalah sebagaimana berikut:
- Duduk merangkak
Ketika seorang kiai dan guru sedang duduk sementara santri dibutuhkan untuk menghadap, maka para santri bergerak melangkah dengan cara merangkak. Tidak berjalan dalam posisi berdiri karena akan lebih tinggi posisi tempat dari pada kiai-kiainya. Pemandangan tidak biasa di beberapa lembaga pendidikan lainnya ini merupakan kebiasaan yang berjalan secara kontinuitas di Pondok Pesantren Gedangan. Fakta sosio moral ini dapat mudah ditemukan ketika berkunjung ke kediaman kiai Pondok Pesantren Gedangan, maka santri yang bertugas membawakan hidangan akan melangkah dengan merangkak sembari membawa snack, minuman dan konsumsi yang lain.
- Menundukkan kepala ketika ada guru
Menundukkan kepala saat berpapasan dengan guru merupakan bentuk andhep ashor yang telah membudaya di kalangan santri Pondok Pesantren Gedangan. Tindakan ini tidak hanya dipahami sebagai bentuk sopan santun semata, tetapi juga telah menjadi simbol konkret dari sikap andhep ashor yang menjadi ciri khas santri Gedangan dalam berinteraksi dengan guru dan kiai. Pembiasaan menundukkan kepala ini juga terlihat ketika berbicara dengan kiai, sehingga mulut menjawab setiap pertanyaan kiai, tapi pandangan mata tidak mengarah kepada wajah kiainya.
- Berdiri menyambut guru datang
Bardiri menyambut guru datang merupakan pembiasaan sosio moral yang ditunjukkan oleh para santri Pondok Pesantren Gedangan. Ketika kiai hendak masuk kelas, maka santri di kelas tersebut berdiri dan tidak duduk sebelum kiai duduk. Begitu juga ketika mereka sedang di luar kelas dan melihat ada kiai yang lewat di sekitarnya, maka secara bersama mereka berdiri untuk menghormati guru-gurunya. Mereka tetap di posisi berdiri sampai sang kiai melewati batas berkumpulnya mereka.
Pembiasaan ini tidak hanya dilakukan kepada kiai tapi juga kepada para guru-guru yang juga mengabdi di pesantren tersebut, baik di tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah maupun Aliyah. Ibu Ria sebagai guru bahasa Inggris yang baru menyampaikan rasa kagumnya dengan pembiasaan ini.
Pembiasaan adalah aktivitas membiasakan anak dengan kegiatan yang bernilai baik terhadap pola pikir dan tingkah laku anak. Intensitas kegiatan yang begitu tinggi, sehingga mendarah daging kepada anak dan menjadi refleksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Metode pembiasaan sangat efektif memberi pengaruh determinan kepada anak, karena mereka lahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa sehingga meniru terhadap apa yang mereka lihat dan mencontoh terhadap apa yang mereka dengar adalah sesuatu yang natural. Dalam kitab Tarbiyah al-Abnâ’ Marâhil Umuriyah wa Khutuwât ‘Amaliyah Wawasâil Tarbawiyyah disebutkan pada usia anak dia menjadi istimewa dengan sucinya sifat fitrah dan senangnya mencontoh dan meniru. [12]
KESIMPULAN
Rekonstruksi sosio-moral berbasis kitab Ta’lim Al-Muta’allim di Pondok Pesantren Gedangan Daleman Kedungdung Sampang dilakukan dengan tiga pendekatan, sebagaimanaberikut:
- Dengan pembelajaran yang holistik, yaitu persiapan, pengenalan materi, proses pembelajaran aktif, penerapan ilmu dan evaluasi dan refleksi
- Dengan keteladanan dalam andhep ashor, abekteh dan Keteladanan dalam andhep ashor adalah kultur budaya pesantren Madura yang bermakna contoh baik dalam rendah diri yang dibuktikan dengan beberapa tindakan nyata. Keteladanan dalam abekteh adalah budaya pesantren Madura yang bermakna contoh baik dari para kiai dan ustadz dalam mengabdi kepada guru-gurunya. Keteladanan dalam ngormat adalah budaya pesantren Madura yang bermakna contoh baik dalam menghormati para kiainya.
Dengan pembiasaan, yaitu aktivitas membiasakan anak dengan kegiatan yang bernilai baik terhadap pola pikir dan tingkah laku anak. Intensitas kegiatan yang begitu tinggi, sehingga mendarah daging kepada anak dan menjadi refleksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka
[1] Marbun, Stefanus M. and M. PdK, Psikologi Pendidikan (Uwais Inspirasi Indonesia: Ponorogo, 2018), 94.
[2] Maria Josephine Wantah, Pengembangan Disiplin dan Moral Pada Anak (Yogyakarta: PT. Kanisius, 2023), 25.
[3] Nasaruddin, Siti Fathonah dkk., Pengantar Sosiolinguistik (Padang: Perm Permata Hijau, 2024), 33.
[4] Pasal 3 ayat II Undang-Undang Nomor 20. Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional.
[5] FN Nurnaningsih, “Rekonstruksi Falsafah Bugis Dalam Pembinaan Karakter: Kajian Naskah Paaseng Toriolo Tellumpoccoe,” Jurnal Lektur Keagamaan 13, no. 2 (2015), 393, https://doi.org/1.
[6] Muhammad Yaumi dan Fatimah Sirate, “Konstruksi Model Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Spiritual untuk Perbaikan Karakter”, dalam Al-Qalam: Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya 20, Edisi Khusus, (2015), 15.
[7] Nasaruddin, Siti Fathonah dkk., Pengantar Sosiolinguistik (Padang: Perm Permata Hijau, 2024), 33.
[8] Riza devi Afriana, “Etika, Moral, Akhlak,” Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952. 6, no. November (2017), 5–24.
[9] Nur Jamal et al., “Pengajian Dan Dekadensi Moral Remaja” 1, no. 1 (2016), 191–218, https://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/kabilah/article/view/1716/1268.
[10] Syaikh Nawawi al-Bantenni, Marâqî al-Ubûdiyah, 16-17.
[11] Abdullah bin ‘Alawy al-Haddảd Al-Hadramî, al-Nashảih al-Dĭniyah wa al-Washảyả al-ĭmảniyah, 10.
[12] Abdullah bin Sa’du al-Fâlih, Tarbiyah al-Abnâ’ Marâhil, 35.

Leave a Reply